Permainan Panas Sang Dosen dan Pembantunya

Leave a comment

Cerita ini terjadi saat saya kuliah dulu. Saya saat itu sangat pemalu dan tidak banyak teman wanita. Ceritanya begini, pada waktu ujian tengah semester, saya dipanggil ke rumah dosen wanita yang masih agak muda, sekitar 26 tahun. Ia juga lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dipanggil ke rumahnya karena saya diminta untuk mengurus keperluan dia, karena dia akan ke luar kota. Malam harinya saya pun ke rumahnya sekitar jam 7 malam. Saat itu rumahnya hanya ada pembantu (yang juga masih muda dan cantik). Suaminya ketika itu belum pulang dari rapat di puncak.

Saat saya membuka pintu rumahnya, saya agak terbelalak karena dia memakai gaun tidur yang tipis, sehingga terlihat payudara yang menyumbul keluar. Saat saya perhatikan, dia ternyata tidak memakai BH. Terlihat saat itu buah dadanya yang masih tegar berdiri, tidak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B. Sewaktu saya sedang memperhatikan Dosen saya itu, saya kepergok oleh pembantunya yang ternyata dari tadi memperhatikan saya. Sesaat saya jadi gugup, tetapi kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya pada saya, dan selanjutnya ia memberikan minuman pada saya. Saat ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya agak pendek), dan sama seperti dosen saya ukurannya juga besar.

Kemudian dosen saya yang sudah duduk di depan saya berkata, (mungkin karena saya melihat belahan dada pembantu itu)

Bispak yg masih perawan

Leave a comment

Malam minggu malam yg ditunggu tunggu para remaja untuk berwakuncar…banyak remaja yg membawa pacarnya ke mall ,bukan untuk membelikan sang pacar barang mewah tapi hanya sekedar meneraktir pacar ke bioskoop atau makan di kedai makan yg jumlahnya cukup banyak di setiap mall…tapi bagaimana klo lagi jomblo seperti gw saat ini…? no problem…malam ini walaupun gw sendirian pasti gw pulang ama cewek ,paling enggak sama bispak….hehehee…tapi nasib memang lagi mujur.. saat gw menunggu empek empek yg baru gw pesen tiba tiba datang dua orang gadis remaja 17 /18 tahunan duduk di dekat meja gw…sambil cekikikan…mereka melirik ke arah gw….wah bispak neh pikir gw….yg satu berambut panjang, susunya gede banget….yg satu berambut pendek sebahu, susunya sedang sedang aja…tapi dua duanya berkulit kuning bening…dan berwajah manis…setelah berkenalan yg berambut panjang namanya yuni dan yg berambut pendek nita…mereka blom punya pacar( gleg gleg….perawankah …gleg )
Setelah makan bersama gw ajakin mereka untuk nonton film di salah satu bioskop yg ada di mall itu…dan mereka mau aja asal di bayarin….
Didalam bioskop gw duduk di tengah nita di sebelah kanan dan yuni di sebelah kiri…baru lima menit film nya di putar tangan gw mulai bergerak …jatuh di bahu mereka trus turun kebawah ,pertama tangan yg kanan meremas susu nita yg ngak terlalu besar tapi sangat kenyal…wow…nita ngak marah malah diem aja menikmati remasan gw…trus tangan kiri gw juga ngak mau kalah meremas susunya sih yuni yg besar itu….kenyal,besar..wow … yunipun ngak marah malah kayaknya ketagihan untuk diremas lebih lanjut…. akhirnya gw ngak tahan lagi gw bilang sama mereka kita keluar aja yuk…film nya ngak rame ini…. kata gw lagi dan merekapun setuju….sampai di mobil mereka bilang nita ngak bisa ikut mau pulang aja…. karena sakit perut lagi mens seh…katanya …lalu gw anterin kerumah sih nita…tinggal sih yuni neh…gw bawah ke hotel salak..di bogor…chek in….trus masuk kamar….sambil minum bier yuni menari nari depan gw…gw biarin dia minum dua botol heineken bier…trus dia mulai membuka bajunya wow…dua buah gunung mencuat kedepan di bungkus bHnya yg tipis…gw samperin dia gw remes remes lagi susunya yg mengkal itu dengan lincahnya gw buka tali bhnya …susunya yg besarpun terpampang bebas di depan mata gw …puting yg ke merahan itu gw masukin kemulut gw….dengan lidah gw gw isepin…sampai dia membesar dan mengeras…hhhsst…geli….hsst cuman itu yg keluar dari mulut yuni….trus gw prosotin roknya….cdnya …sekarang yuni terlanjang bugil…..bulu jembutnya blom begitu banyak…yg membuat kontol gw ngaceng….blom sempet gw rabah buljemnya yuni sudah berjongkok didepan gw memberikan blowjob…wow….kontol gw di pegangnya sambil lidahnya bermain di kepala kontol gw….wow…sadapppppppnya…..kelur masuk mulut yuni yg hangat diputerin lidahnya di kepala kontol gw di masukin lagi kedalam mulutnya….biji peler gw sekali sekali di ciumin..wow komplit banget..akhirnya gw ngecrot di mulutnya….sperma putih membasahi mulut yuni yg mungil itu….trus gw suruh dia rebahan di kasur….sekarang giliran gw beraksi…gw buka celahan bibir memeknya yg masih berwarna pink yg sudah mulai mengkilat oleh cairan birahinya….gw masukin lidah gw…gw cari itunya dengan lidah gw…gw jilatin itilnya sampai dia menjerit menahan orgasme…sambil tangannya meremas rambut gw….trus gw amabil posisi…gw naik ke atas ranjang …gw buka pahanya lebar lebar….gw bawah kontol gw kecelahan memeknya …gw gesek gesekin di celah celah memeknya itu…husssst…hhhssst…aaghhh…rintihan nya mulai terdengar..gw terusin sampai memeknya menjadi banjir cairan pelumas yg hangat dan bening itu….baru gw tekang ke arah lobang nya yg masih kecil itu …tapi baru sampai kepalanya saja yg masuk yuni mulai menjerit aauggh… pelan pelan ….kamu yg pertama..wah…masih perawan neh…ngak di sangka gw dpt perawan lagi….pelan pelan gw tarik kontol gw trus gw dorong lagi sampai permukaan lobangnya….akhirnya yuni bisa lagi menikmati permainan gw…dan lobangnya semakin becek dan licin…. sampai akhirnya gw ngak tahan …gw dorong semua kontol gw kedalam memek perawan yuni yg sempit itu…yuni menjerit..auughh sakit….sambil mencubit tangan gw….augh….augh…dan darah perawan yuni membasahi kontol gw….gw tarik pelahan lahan keluarlah beberapa tetes darah dari memeknya membasahi sprei rajang hotel salak…pelahan tapi pasti gw mulai mengoyangkan kontol gw…dorng masuk tarik lagi mulanya pelahan lalu semakin lama semakin cepat sampai yuni ngak merasa sakit lagi…dan memeknya semakin licin gw dorong dengan cepat kedalam keluar kedalam keluar….erangan sakit yuni berubah menjadi erangan nikmat…hhsst….trus…. yg dalem….trus…..hhssstt….gw berubah posisi menjadi seperti org berpush up…sehingga kontol gw bisa masuk kedalam semuanya…urat urat di sekitar kontol gw membuat yuni menjadi tambah nikmat…..uugh hhsst…aagh…. jeritnya…yaaay yyaaa….yuni sudah mencapai puncak kenikmatannya di susul sama gw….dua macam cairan hangat bersatu di dlam satu lobang….woow..nikmatnya……gw cabut kontol gw…bersamaan dengan keluarnya kontol gw keluar juga cairan hangat bercampur darah perawan dan sperma gw..dari memeknya…. hhmm ternyata dugaan gw salah dia bukan cewek bispak ,cuman cewek yg lagi jomblo kayak gw….yg sama sama butuh….ke esokan harinya…. gw bawah dia kerumah nita…sejak saat itu yuni dan nita menjadi temen seks gw ….kadang kadang kita main trio…..nita sampai saat ini blom gw perawanin….tunggu sampai memek yuni ngk sempit lagi baru nita gw perawanin…. saat ini cukup dengan lidah saja….ehhehheh….

This entry was postedon Saturday, April 23rd, 2011 at 5:21 amand is filed under Umum.You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Search for: Author

A little something about you, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Ngentot Pembantu Baruku

Leave a comment

Kalo ngomongin ngentot mang gak ada bosen nya, nih sama pada cerita ngentot gw ama pembantu baru berikut ini.

ngentot
Perkenalkan namaku Anthony, dan panggilan akrabku adalah Anton. Aku berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun terakhir di Melbourne (Australia). Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang menetap di sana.

Di pertengahan bulan November 2004 adalah awal dari liburan kuliah atau di Australia sering disebut dengan Summer holiday (liburan musim panas). Summer holiday di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya. Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri. Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.

Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong yang membuat mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.

Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir.
Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan penuh dengan antrean panjang.

Seabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang. Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.
Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4 sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.

Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga lama ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama Tutik, dan sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi Tutik jago sekali memasak masakan Indonesia. Makanan bibi yang paling aku rindukan selama aku kuliah di Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi Tutik selama 3 bulan liburan musim panas ini.
Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi Tutik, tiba-tiba sosok gadis muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata gadis muda ini adalah pembantu rumah yang baru, karena pembantu sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi Tutik, pembantu baruku ini bernama Yanti.

Yanti berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya hitam dan lebar sehingga tambak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu. Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.

Yanti membantuku membawa koper bagasiku masuk, dan menanyakan diriku apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya Yanti telah diberi info oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku pasti juga membawa baju kotor pulang.
Aku unpack 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi Tutik, supir ayah. Dan tentu saja oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu lama yang kini sudah tidak bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada Yanti. Ayah aku belikan topi cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi Tutik dan Yanti, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.

Yanti tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit mahal.
Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi Tutik aku minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.
Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.
Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-pasan dengan Yanti. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, Yanti langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.

Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku. Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir mengenai Yanti, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan pembantu secantik Yanti.
Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa jam aku tidur.
Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi. Aku memanggil-manggil bibi Tutik, dan tidak ada jawaban darinya. Tak lama kemudian Yanti muncul dari kebun belakang.

“Nyo Anton wis mangan? (tuan muda Anton sudah makan?)” tiba-tiba Yanti bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah ‘Nyo’ adalah kependekan dari ‘Sinyo’ (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa yang artinya tuan muda.
Aku berusaha membalas pertanyaan Yanti dengan bahasa Jawa. Tapi aku sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.
“Durung, aku sek tas tangi kok. Mana bibi? Aku sudah laper nih! (Belon, aku baru aja bangun tidur. Mana bibi? Aku sudah lapar nih)” jawabku separuh Jawa separuh Indo.
“Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang aku lek Nyo Anton pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan Anton ingin beli apa untuk makan pagi)” kata Yanti.

Pagi itu aku berharap bibi Tutik memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku akhirnya meminta Yanti untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, Yanti pun langsung segera berangkat.
Sambil menunggu Yanti kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.
Hanya sekitar 20 menit, Yanti telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku kembali menonton TV, sedangkan Yanti juga kembali ke kebun belakang kira-kira mencuci atau menjemur pakaian.

Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, Yanti sedang menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat Yanti sedang berjinjit-jinjit sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan Yanti sedikit pendek, sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut Yanti ramping sekali. Payudaranya sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan Yanti saat itu.
Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke arah Yanti.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi Tutik.
“Anton sek tas tangi?! Cek siange tangine. (Anton baru bangun. Kok siang banget bangunnya)” suara bibi Tutik membuyarkan semuanya.

“Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-cari)” jawabku.
“Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin nyonya ke rumah temannya sebentar)” jawab bibi.
“Anton gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan Tutik? (Anton pengen apa siang ini? Pengen sambel lalapan Tutik)” tanya bibi. Maklum memang sambel lalapan bikinan bibi Tutik tiada duanya. Makanya aku menamakannya ‘Sambel Lalapan Tutik’. Aku pernah berpikir untuk membuka depot khusus masakan bibi Tutik. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.
“Wuahhh … gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh … mau bibi. Dah kangen aku ama sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga yah)” jawabku dengan girangnya.

Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-masakan bibi Tutik, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku. Lama kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.
Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2006 …
Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok Yanti dari kejauhan. Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula. Yanti tampak semakin lama semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-kata yang sebenarnya adalah Yanti semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap kali aku melihat Yanti, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat terlanjang.
Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11 pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi Tutik sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang sunyi. Aku duduk di sofa empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak menyalakan tv. Kudengar Yanti sedang di halaman belakang seperti biasanya mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai dengan Yanti selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi Tutik. Karena mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi Tutik, jadi apa saja bisa nyambung bila ngobrol dengan bibi Tutik.

Aku beranjak dari sofa dan menuju halaman belakang untuk mengajak Yanti ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang, aku terpeset dan terpelanting di belakang. Bunyi ‘gubrakan’ tubuhku lumayan keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. Yanti terkejut melihat tubuhku yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggangku yang sakitnya bukan main.

“Nyo Anton … kok iso moro-moro tibo? … (tuan muda Anton … kok bisa tiba-tiba jatuh? …)” tanya Yanti panik.
Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.
“Lahh … nyo Anton mosok ora ketok lek tehel’e sek basa ngono … endi seng loro? … (lah … tuan muda Anton masa ngga liat kalo lantainya masih basah … mana yang sakit? …)” tanya Yanti sekali lagi.
Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.
“Mlebu sek nyo Anton … tak urut’e cekno mendingan … longgo’o ndek sofa sek … Yanti golek obat urut ndek kamar nyonya? … (masuk dulu tuan muda Anton … aku urut biar mendingan … duduk saja di sofa … Yanti cari obat urut di kamar nyonya? …)” pinta Yanti.
Aku menurut saja dengan permintaan Yanti. Aku baringkan tubuhku di atas sofa empuk. Tak lama kemudian Yanti kembali sambil membawa minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di pinggangku.

Yanti terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan Yanti terasa nikmat, sehingga perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama yang ditawarkan Yanti sangat ampuh.
Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan Yanti membuat akal sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.
“Yanti … ora enak iki ndek sofa … nang jero kamarku wae … ndek sofa iki kudu arep melorot wae badanku … (Yanti … kagak enak nih di atas sofa … di dalam kamarku aja … di atas sofa seperti yang mau melorot saja badanku …)” pintaku.
Yanti hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku. Yanti memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan jemuran baju dulu, karena tanggung.
Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana mendapatkan tubuh Yanti. Segala cara dan taktik telat aku pikirkan, dan banyak sekali yang ada di otak ini.

Selang beberapa saat Yanti mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya dengan gembira.
“Yanti, bibik Tutik nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (Yanti, bibi Tutik pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)” tanyaku.
“Bibik ono urusan’e, ketokan’e sesok jange teko omah maneh. Koyok’e urusan penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya urusan penting)” jawab Yanti.
Mendengar jawaban Yanti tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya aku dan Yanti saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih baru jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.

“Yanti, pinggangku sek rodo loro … tolong uruten maneh yo … urutan-mu uenak tenan … ora kalah mbek pijetan’e sing wis mahir (Yanti, pinggangku masih rada sakit nih … tolong diurut lagi yah … urutan-mu enak banget … kagak kalah ama pijetan professional)” kataku sambil memujinya.

“Nyo Anton iki ono-ono wae … iki sing pertama Yanti mijetin wong liyo … ora ono pengalaman’e (tuan muda Anton ini ada-ada aja … ini baru pertama kali Yanti pijitin orang lain … masih belon ada pengalaman)” tundas Yanti.
“Walah walah … sing pertama wae wes hebat … pasti Yanti pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah … yang pertama kali aja sudah hebat … pasti Yanti ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.
“Nyo Anton iso wae seh … (tuan muda Anton bisa aja sih)” jawab Yanti singkat.
“Yanti ojok jeluk aku nganggo jeneng ‘nyo’ … koyok cah cilik wae … jeluk nganggo jeneng mas Anton wae … (Yanti jangan panggil aku dengan nama ‘nyo’ … kayak anak kecil aja … panggil mas Anton aja)” pintaku. Yanti hanya menganggu tanda setuju.
Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas Yanti yang sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba Yanti bertanya “Wes mendingan saiki mas Anton? (Dah mendingan sekarang mas Anton)”.
Otakku langsung merespon pertanyaan Yanti dengan cepatnya. “Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso’ne pokangku rodo linu. Coba’en diurut pisan pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba diurut juga pahaku)” jawabku ngawur tapi mengena.

Tanpa protes atau bertanya Yanti langsung mengurut pahaku. Pertama-tama paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri saja maunya. Yah singkat kata, batang kontolku dah dari tadi ingin sekali berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.
Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.

“Yanti, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu. Koyok’e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora keberatan. (Yanti, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)”, pintaku tidak tau diri.

Yanti sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah, melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.
“Kok iso linu endok’e mas Anton … emange endok’e mas Anton melok kepleset? (Kok bisa linu buah zakar mas Anton … emangnya buah zakar mas Anton ikut terpeleset?)” tanya Yanti lugu.
“Yah, koyok’e ngono. (Yah, kayaknya begitu)” jawabku singkat.
Tanpa banyak tanya lagi, Yanti perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran napsu yang muncul dari otakku.
“Uenak mas Anton? (Enak mas Anton?)” tanya Yanti. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.
“Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)” tanya Yanti lagi.
Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana dalamku. Serentak melihat gelagatku, Yanti kaget bukan main dan secara reflek memejamkan matanya.
“Mas Antonnn … lopo kok mlorotin katok … ora ono acara’ne ngomong dhisik … (Mas Antonnn … kenapa kok melorotin celana … tanpa ada acara ngomong lagi)” protes Yanti dengan matanya yang masih terpejam.
“Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak … lah ya aku plorotin wae katok’e … cekno uenak elus-elusan’e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya biar enak … yah aku lepas saja celananya … biar enak elus-elusannya)” jawabku menyakinkan Yanti.

Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku, Yanti kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini … alamak … enak banget. Terasa lembut sekali tangan Yanti. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan mengeras.
“Lah … opo iki mas Anton … kok atos soro? (Lho … apa ini mas Anton … kok keras banget?)” tanya Yanti heran dengan mata sambil terpejam.

“Yo delok’en wae Yanti … buka’en moto-mu cekno weruh … ora bahaya kok (Yah liat aja Yanti … buka dulu matanya biar tau … ngga bahaya kok)” jawabku dengan jantungku berdegup-degup kencang.
Perlahan-lahan Yanti membuka matanya, dan langsung terbelak kedua matanya sambil terheran-heran.
“Lah … manuk’e mas Anton kok iso ngaceng koyok ngono … linu sisan tah? (Lho … burung mas Anton kok bisa tegang kayak gitu … linu juga tah?)” tanya Yanti lugu.
“Iki jeneng’e manukku ‘happy’ alias seneng … soale endok’e dielus-elus wong wedok sing ayu kayak Yanti (Ini namanya burungku ‘happy’ alias senang … soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak Yanti)” kataku mulai merayu.
“Mas Anton iki … (Mas Anton ini …)” kata-katanya terputus dan terlihat wajah Yanti yang malu-malu atas pujianku itu. Yanti ternyata masih lugu dalam hal beginian, membuatku semakin yakin kalo Yanti ini masih ting-ting alias perawan.
Tanpa disuruh olehku, Yanti mulai mengelus-elus batang penisku dengan lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasa, semakin dielus, semakin tegang dan tegak berdiri. Yanti dari tadi senyum-senyum saja, dan tampak wajahnya yang masih malu-malu.

Setelah lama dielus-elus oleh Yanti batang penisku berserta buah zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis Yanti.
“Yanti …” kataku.
“Emmm …” jawab Yanti singkat.
“Saiki gantian yo … (Sekarang gantian yah)” kataku.
“Gantian yo opo? (Gantian gimana?)” tanya Yanti.
“Hmmm … ngene … saiki gantian aku … teko mau Yanti wis delok manukku mbek endokku … sek dielus-elus maneh … saiki gantian aku seng delok tempik’e Yanti (Hmmm … gini … sekarang gantian aku … dari tadi Yanti dah liat burungku ama buah zakarku … dan dielus-elus lagi … sekarang gantian aku yang liat memek Yanti” kataku tanpa basa-basi.
“Emoh mas Anton … isin aku … ojok mas Anton … (Ngga mau mas Anton … malu aku … jangan mas Anton)” tolak Yanti.
Penolakan Yanti yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut Yanti untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya Yanti langsung bertanya.

“Mas Antonnn … kate diapakno aku? (Mas Antonnn … mau diapain aku?)” tanya Yanti pasrah.
“Menengo wae Yanti … ora aku apak-apak’no kok … mek arep delok tempik’e Yanti … ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja Yanti … ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memek Yanti aja …ngga adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)” kataku bohong. Padahal dibalik benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap Yanti, terutama terhadap tubuhnya.

Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. Yanti berusaha menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan Yanti ini seperti lampu hijau untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.
Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya, agar supaya aku bisa melihat jelas memeknya. Secara reflek Yanti menutup memeknya dengan tangannya.
“Wes mas Antonnn … isin tenan aku … (Udahan mas Antonnn … malu banget aku …)” kata Yanti.
“Durung Yanti … ojok mbok ditutupi tok tempik’e … ora ketokan … (Belon Yanti … jangan ditutup terus dong memeknya … ngga keliatan)” kataku protes.

Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memeknya. Yanti langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya menyilang. Yanti masih terus berusaha menyembunyikan memeknya dariku. Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang Yanti alami. Aku mencoba merayu dan menyakinkan Yanti apa adanya.
“Ojok isin-isin Yanti … ora ono sing ndelok kok … men aku tok wae … (Jangan malu-malu Yanti … ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok … cuman ada aku saja …)” rayuku lagi.
Kini Yanti mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk mengendorkan pertahanan Yanti. Setelah aku berhasil membuka selangkangan Yanti … alamak … aku langsung menelan ludah. Memek Yanti begitu indah dan subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-jembut ini tidak pernah sekalipun Yanti cukur sejak pertama kali tumbuh, sehingga masih tampak halus lembut.

Kucoba lagi membuka selangkangan Yanti lebih lebar lagi, aku ingin sekali menemukan biji etil Yanti. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil Yanti dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memek Yanti untuk menemukan biji etilnya, Yanti langsung protes.

“Mas Anton … ojok mas … (Mas … jangan mas …)” pinta Yanti. Aku semakin gemas dengan nada penolakan pasrah Yanti.
Aku tidak mengubris permintaan Yanti, dan semakin gencar bergerilya mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.
“Mas Anton … wes mas … uisin tenan aku … (Mas Anton … udahan mas … malu banget aku)” mohon Yanti.
Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu memakan waktu lama untuk membuat memek Yanti basah. Mungkin ini pertama kalinya Yanti merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan kirinya meremas guling. Yanti menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut Yanti, tapi nafasnya kini sudah berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa Yanti masih belum bisa atau belum terbiasa mendesah.
“Yanti … tempik mu wis buasah tenan saiki … (Yanti … memekmu dah basah banget sekarang)” pujiku.
“Masss … masss … wes masss … Yanti mbok opok’no … jarene mbek delok tok … saiki kok di dolen tempik ku (Masss … masss … udahan masss … diapain Yanti … katanya cuman mau liat aja … sekarang kok dimainin memekku)” protes Yanti pasrah.

“Aku wes kesengsem karo tempikmu iki … gemesi wae … tak elus-elus malah dadi buasah … (Aku dah jatuh cinta ama memekmu … bikin gemes aja … dielus-elus malah jadi basah) … ” kataku sambil bercanda.
Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Yanti secara reflek tiba-tiba menjerit “Mas Antonnn … massssss …”. Yanti orgasme di atas ranjangku.
Aku biarkan Yanti mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.
“Yanti sek tas mau kok bengok … loro tah? (Yanti barusan aja kok teriak … sakit?” tanyaku pura-pura bego.
“Ora loro mas … sek tas-an Yanti koyok kesetrum … rasa’e koyok nang surgo … uenak tenan … atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas … barusan Yanti kayak kena setrum … rasanya seperti di surga … enak banget … jantungku sekarang masih deg-degan)” jawab Yanti.

Kini saatnya giliranku untuk orgasme. Kontolku sudah sejak tadi tegang melihat kelakuan Yanti. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa yang harus aku katakan ke Yanti bahwa aku ingin menyodok kontolku ini ke dalam memeknya yang masih perawan itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku mencoba untuk langsung main terobos saja. Aku kembali membuka selangkangan Yanti, dan mencoba mengarahkan kontolku ke mulut memeknya. Yanti protes lagi.
“Mas Anton arep opo? (Mas Anton mau apa?)” tanya Yanti heran.
“Oh … aku gelem kesetrum sisan … koyok Yanti seng mau (Oh … aku juga mau kesetrum … kayak Yanti tadi)” jawabku spontan.

“Lah … terus laopo manuk’e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho … trus kenapa burung mas mau masuk ke memekku?)” tanya Yanti heran.
Yanti benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).
“Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa kesetrum kalo burungku masuk ke memekmu)” jawabku gombal.

“Ojok mas … engkuk loro … jarene wong-wong (Jangan mas … nanti sakit … katanya orang-orang)” katanya.
“Ojok wedhi Yanti … tak mlebu pelan-pelan wae … tak jamin ora loro (Jangan takut Yanti … dimasukin pelan-pelan aja … dijamin ngga sakit)” rayuku.
Yanti diam saja dan pasrah.
Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memek Yanti. Yanti memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.
Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang kontolku tegak dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina Yanti, supaya aku bisa melihat lubang memeknya. Karena Yanti masih perawan, ngga mudah untuk menembuh pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat Yanti nantinya menangis seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk batang kontolku ke lubang memeknya yang masih perawan.

Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2 centi, aku diam sejenak, kulihat Yanti sedikit meringis menahan perih.
“Perih Yanti?” tanyaku iba.
“Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)” jawab Yanti yang kini matanya kembali terbuka memandangku.
“Tak mlebu alon-alon yah … lek perih ngomong’o … ojok meneng ae … (Aku masukin pelan-pelan yah … kalo perih bilang aja … jangan diam aja) …” suruhku.
Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini aku sudah terlanjang bebas. Kondisi Yanti masih lengkap, hanya roknya saja yang terbuka.
Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang kontolku, karena dengan menancap 2 centi saja di dalam memek Yanti dalam kondisi amat tegang, mudah untukku menembus semua batang kontolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar Yanti nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang sedang diperawani.

Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah Yanti yang cantik. Yanti masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih yang dialaminya.
Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1 centi. Yanti meringis lagi.
Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di dalam liang memek Yanti. Batang kontolku cuman mentok sampai kedalaman kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba nanti saatnya yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang kontolku di dalam memek Yanti.
Perlahan-lahan suara rintihan Yanti semakin memudar, dan wajah Yanti tidak lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memek Yanti.
Sekarang batang kontolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3 centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi menjadi 6 centi.

“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku. Yanti menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak lagi sakit.
Napas Yanti kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan tangan kirinya meremas selimutku.
Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi erotis terhadap memek Yanti. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang kontolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti.
“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku sekali lagi. Yanti kali ini tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

“Tempik mu wis uenak maneh? (Memekmu dah enakan lagi?)” tanyaku bercanda. Yanti mengangguk.
“Yanti … buka en klambimu … mosok ga kroso panas tah? … buka en ae cekno adem (Yanti … buka dong bajumu … masa ngga merasa panas? … buka aja biar sejuk)” kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani Yanti dalam keadaan benar-benar terlanjang.
Nanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan masih membiarkan roknya, karena batang kontolku masih sibuk menari-nari di dalam lubang memeknya. Tampak payudara Yanti yang merekah dengan ukuran 32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir puting susunya, dan Yanti protes atas tindakanku tersebut.
“Masss … loro masss … (Masss … sakit masss …)” protes Yanti lembut. Aku pun kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.

Aku merasa sudah lama aku menggenjot tubuh Yanti siang itu. Tapi aku masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke dalam memeknya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memek Yanti dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.
Nafas Yanti semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja. Darah Yanti seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini Yanti tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat yang diberikan oleh batang kontolku. Mulut Yanti kini tak terkontrol. Untuk pertama kalinya mulut Yanti mendesah atau merintih basah.

“Uhh … ohhh … masss … masss … kerih (geli) masss …” rintih Yanti.
“Aku kerih sisan Yanti … Yanti wis arep ngoyo? (Aku geli juga Yanti … Yanti sudah mau pipis?)” tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing kepanasan. Leher Yanti sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi tubuh Yanti.
Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata ‘pipis’, Yanti pun menganggukkan kepalanya. Yanti sudah akan memasuki tahap orgasme yang kedua kalinya.
Tidak sampai hitungan 2 menit, Yanti tiba-tiba memekik sambil tangan kanannya meremas biceps-ku.
“Masss … ampunnn masss … kerih mbanget … arep ngoyo ketok’e … aahhh … (Masss … ampunnn masss … geli banget … ingin pipis rasanya … ahhh …)” pekik Yanti dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.
Tidak salah lagi, Yanti telah mencapai orgasme keduanya. Memeknya semakin basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang kontolku tertanam dalam-dalam di dalam memeknya yang basah nan hangat. Kurasakan setiap denyutan daging-daging di dalam memek Yanti.

Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang kontolku keluar dengan maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang kontolku, aku melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang kontolku, dipangkal kontolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah Yanti, dan ini adalah bukti keperawanan Yanti yang telah aku renggut darinya.
Yanti kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya. Masih terasa basah liang memek Yanti.
“Yanti … saiki aku sing kate ngoyo … siap-siap yo (Yanti … sekarang aku yang harus pipis … siap-siap yah)” kataku.
Yanti seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memeknya lebih cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam memek Yanti. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.

Wajah Yanti kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali ini Yanti sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya bercinta.
“Yanti … kepenak temenan nyenuk karo Yanti … tempik-mu gurih tenan (Yanti … enak/senang banget ngentot ama kamu … memekmu gurih banget)” pujiku sambil terus menggenjot memeknya.
“Masss Anton … masss … aku arep ngoyo maneh … ahhh masss … (Masss Anton … masss … aku pengen pipis lagi … ahhh masss …)” desah Yanti.

“Iku jenenge arep teko Yanti … ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang Yanti … bukan mau pipis)” jawabku sambil tertawa renyah dan Yanti pun tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah ‘datang’ masih terasa aneh.
Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes keringatku yang jatuh di perut dan dada Yanti. Posisiku menyetubuhinya masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah posisi. Mungkin bagiku lebih nyaman untuk Yanti digagahi dengan posisiku di atas. Yanti masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.

Batang kontolku makin lama terasa makin mengeras. Lahar mani di dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang kontolku sudah tidak mampu lagi membentung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap rasanya.
“Yanti … aku arep teko iki … ora iso di tahan maneh … saiki Yanti … saikiii … Yantiii … (Yanti … aku mau datang nih … ngga bisa ditahan lagi … sekarang Yanti … sekaranggg … Yantiii)” aku mengerang keras diiringi oleh semburan lahar panas dari batang kontolku yang mengisi semua liang memek Yanti. Semburan panas dari batang kontolku mendapat sambutan hangat dari Yanti. Aku memeluk erat tubuh Yanti, dan Yanti membalas memelukku sambil memekik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila Yanti mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang kontolku berkali-kali memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti. Mungkin sekarang liang memek Yanti penuh sesak oleh lahar maniku.

Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh Yanti. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat Yanti. Aku memeluk Yanti, sambil menciumi lehernya. Batang kontolku masih menancap di dalam memek Yanti. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang kontolku sudah mulai meloyo.
“Yanti … terima kasih … ” bisikku dalam bahasa Indo. Yanti hanya diam saja. Tak lama kemudian, aku mendengar Yanti menyedot ingusnya. Ternyata mata Yanti tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat Yanti ingin sekali menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku Yanti, aku berusaha memberinya comfort (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada Yanti bahwa ini adalah rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyetubuhinya. Yanti begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan lugu.
Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut seperti Yanti. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak dapat menahan keinginanku itu karena sejak lama aku memantau dan melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak mampu lagi menahan nafsu birahiku.
Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu dan tempat untuk bersetubuh dengan Yanti. Sejak pertama kali memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi. Yanti selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan memeknya berkali-kali.

Untung saja, makin lama Yanti semakin menyukai berhubungan badan denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku kadang meminta Yanti memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.
Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota keluargaku yang lain.
Sudah sering kali aku bermain cinta dengan Yanti di liburan musim panas ini. Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa lebih lama di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku kangen dengan Yanti, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol dengan Yanti. Dan seputar obrolan kami adalah tentang ‘gituan’ aja.

Studiku tinggal 1 semester lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan Yanti. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan Yanti. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, paling tidak melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa senantiasa dekat dengan Yanti. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan nasibku dengan Yanti.

Berakhirlah cerita panas indonesia kali ini, lain waktu gw bakal ceritain cerita cerita yang mantap punya deh.

Selingkuh dengan Pembantu ABG

Leave a comment

Ini Cerita selingkuh ku, yang fenomenal, banyaknya godaan yang bisa ku atasi, justru aku selingkuh dengan pembantuku sendiri. Selama tiga tahun berumah tangga, boleh dibilang aku tidak pernah berselingkuh. Istriku cantik, dan kami telah dianugerahi seorang anak lelaki berusia dua tahun. Rumah tangga kami boleh dibilang rukun dan bahagia, semua orang mengakui bahwa kami pasangan yang serasi.

Sebenarnya godaan cukup banyak. Bukannya sombong, sebagai laki-laki berusia sekitar 29 yang cukup ganteng, punya jabatan pula, kukira aku termasuk idola para wanita. Di kantor, misalnya, aku tahu ada satu-dua karyawati yang menyukaiku. Tante Shinta, instruktur senam istriku, setiap kali bertemu pasti memberi sinyal-sinyal mengundang kepadaku, tapi tidak pernah kuladeni. Demikian pula Ibu Yessi, salah seorang rekanan bisnisku. Siapa sangka, akhirnya aku selingkuh juga. Yang lebih tidak dapat dimengerti, aku berselingkuh dengan pembantu!

Namanya Imah, usianya sekitar 18 tahun, asal Sukabumi. Wajahnya memang lumayan manis, lugu, ditambah lagi dengan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya agak kecil, tingginya sekitar 150 cm, tetapi sintal. Pinggangnya ramping, sementara pantatnya besar dan buah dadanya bulat montok.

Terus terang, aku sudah punya perasaan dan pikiran negatif sejak pertama kali dia diperkenalkan kepada kami oleh Bik Iroh, pembantu tetangga sebelah rumah. Entah bagaimana, ada desir-desir aneh di dadaku, terlebih lagi ketika kami beradu pandang dan dia mengulum senyum sembari menunduk.

Saat itu sebenarnya istriku merasa kurang sreg untuk menerima Imah bekerja. Naluri kewanitaannya mengatakan bahwa gadis itu type penggoda. Dia takut jangan-jangan akan banyak terjadi skandal dengan sopir-sopir dan para bujang di lingkungan kami. Tetapi kondisinya saat itu agak memaksa sebab istriku tiba-tiba harus berangkat ke luar negeri untuk urusan dinas, sementara pembantu kami baru saja pulang kampung.

Ternyata, skandal yang dikhawatirkan istriku itu benar-benar terjadi, tetapi justru dengan aku sendiri. Celakanya sampai saat ini aku tidak bisa menghentikan itu. Aku seperti mabuk kepayang. Harus kuakui, bersetubuh dengan Imah memang lain. Kenikmatannya tiada banding. Semakin sering aku menidurinya, rasanya malah bertambah nikmat.

Agar tidak terbongkar, aku segera mengambil langkah pengamanan. Hanya beberapa hari setelah istriku kembali dari luar negeri, Imah minta berhenti. Alasannya pulang kampung karena orang tuanya sakit keras. Tentu saja itu bohong. Yang betul adalah dia kuamankan di sebuah kamar kos yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Aku juga membiayai semua kebutuhan sandang pangannya. Hampir setiap siang aku mampir ke sana untuk mereguk kenikmatan bersamanya. Kadang-kadang aku juga menginap satu-dua malam dengan alasan dinas ke luar kota. Dan itu telah berjalan hampir dua tahun sampai saat ini.

Hari pertama Imah bekerja di rumah kami, tidak ada kejadian yang berarti untuk diceritakan.Yang jelas, semua petunjuk dan instruksi dari istriku dilaksanakannya dengan sangat baik. Nampaknya dia cukup rajin dan berpengalaman, serta pandai pula menjaga anak.

Hari kedua, pagi-pagi sekali, aku berpapasan dengan Imah di muka pintu kamarnya. Aku sedang menuju ke kamar mandi ketika dia keluar kamar. Dia pasti baru selesai mandi karena tubuhnya menebarkan bau harum. Saat itu dia mengenakan rok span dan t-shirt ketat seperti yang umum dikenakan ABG zaman sekarang. Sexy sekali. Otomatis kelelakianku bangkit. Aku jadi seperti orang tolol, mematung diam sembari memandangi Imah. Sejenak gadis itu membalas tatapanku, lalu menunduk dengan muka memerah dadu. Aku lekas-lekas berlalu menuju kamar mandi.

Sehabis mandi, kudapati Imah sudah berganti pakaian, kembali mengenakan baju longgar dan sopan seperti kemarin. Keherananku segera terjawab ketika istriku bercerita di dalam kamar sembari bersungut-sungut:

“Gawat nih si Imah itu! Papa nggak lihat sih, pakaiannya tadi… Sexy banget! Jangan-jangan Papa juga bisa naksir kalau lihat.”

“Terus?” tukasku tak acuh.

“Yah Mama suruh ganti. Ingat-ingat ya Pa, selama Mama nggak ada, jangan kasih dia pakai baju yang sexy-sexy begitu!”

Hari ketiga, lewat tengah malam, aku bercumbu dengan istriku di ruang TV. Besok istriku berangkat untuk kurang lebih tiga minggu, jadi malam itu kami habiskan dengan bermesraan.Sebelumnya kami menonton film biru terlebih dahulu untuk lebih memancing birahi. Seperti biasa, kami bermain cinta dengan panas dan lama. Pada akhir permainan, di saat-saat menjelang kami mencapai orgasme, tiba-tiba aku merasa ada seseorang mengawasi kami di kegelapan. Aku tidak bercerita kepada istriku, sementara aku tahu, orang itu adalah Imah. Yang aku tidak tahu, berapa lama gadis itu menyaksikan kami bermain cinta.

Keesokan harinya, sore-sore, istriku berangkat ke Thailand. Aku mengantarnya ke airport bersama anak kami. Hari itu kebetulan Sabtu, jadi aku libur.

Pulang dari airport, kudapati Imah mengenakan t-shirt ketat berwarna pink yang kemarin. Jantungku langsung dag-dig-dug melihat penampilannya yang tak kalah menarik dibanding ABG-ABG Jakarta. Selintas aku teringat pesan istriku, tapi kenyataannya aku membiarkan Imah berpakaian seperti itu terus. Bahkan diam-diam aku menikmati keindahan tubuh Imah sementara dia menyapu dan membersihkan halaman rumah.

Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku hampir tidak tahan. Aku melihat Imah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Dia tidak melihatku. Kemaluanku langsung mengeras. Bayangkan saja, ketika istri sedang tidak ada, seorang gadis manis memamerkan keindahan tubuhnya sedemikian rupa. Maka, diam-diam aku menghampiri begitu dia masuk kamar.

Aneh, pintu kamarnya tidak ditutup rapat. Aku dapat melihat ke dalam dengan jelas melalui celah pintu selebar kira-kira satu centi. Apa yang kusaksikan di kamar itu membuat jantungku memompa tiga kali lebih cepat, sehingga darahku menggelegak-gelegak dan nafasku memburu. Aku menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan diri.

Nampak olehku Imah sedang duduk di tepian ranjang. Handuk yang tadi meliliti tubuhnya kini tengah digunakannya untuk mengeringkan rambut, sementara tubuhnya dibiarkannya telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok berguncang-guncang. Lalu ia mengangkat sebelah kakinya dengan agak mengangkang untuk memudahkannya melap selangkangannya dengan handuk. Dari tempatku mengintip, aku dapat melihat rerumputan hitam yang tidak begitu lebat di pangkal pahanya.

Saat itu setan-setan memberi petunjuk kepadaku. Mengapa dia membiarkan pintunya sedikit terbuka seperti ini? Setelah menyaksikan aku bermain cinta dengan istriku, tidak mustahil kalau dia sengaja melakukan ini untuk memancing birahiku. Dia pasti menginginkan aku masuk Dia pasti akan senang hati menyambut kalau aku menyergap tubuhnya di pagi yang dingin seperti ini…

Ketika kemudian dia meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok, sementara mukanya menengadah dengan mata terpejam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Batang kemaluanku seakan berontak saking keras dan panjang, menuntut dilampiaskan hasratnya. Tanganku langsung meraih handle karena aku sudah memutuskan untuk masuk…

Pada saat itu tiba-tiba terdengar anakku menangis. Aku jadi sadar, lekas-lekas aku masuk ke kamar anakku. Tak lama kemudian Imah menyusul, dia mengenakan daster batik yang terbuka pada bagian pundak. Kurang ajar, pikirku, anak ini tahu betul dia punya tubuh indah. Otomatis batang kemaluanku mengeras kembali, tapi kutahan nafsuku dengan susah payah.

Alhasil, pagi itu tidak terjadi apa-apa. Aku keluar rumah untuk menghindari Imah, atau lebih tepatnya, untuk menghindari nafsu birahiku sendiri. Hampir tengah malam, baru aku pulang. Aku membawa kunci sendiri, jadi kupikir, Imah tidak akan menyambutku untuk membukakan pintu. Aku berharap gadis itu sudah tidur agar malam itu tidak terjadi hal-hal yang negatif.

Tetapi ternyata aku keliru. Imah membukakan pintu untukku. Dia mengenakan daster yang tadi pagi. Daster batik itu berpotongan leher sangat rendah, sehingga punggungnya yang putih terbuka, membuat darahku berdesir-desir. Lebih-lebih belahan buah dadanya sedikit mengintip, dan sebagian tonjolannya menyembul. Rambutnya yang ikal sebahu agak awut-awutan. Aku lekas-lekas berlalu meninggalkannya, padahal sejujurnya saat itu aku ingin sekali menyergap tubuh montoknya yang merangsang.

Sengaja aku mengurung diri di dalam kamar sesudah itu. Tapi aku benar-benar tidak dapat tidur, bahkan pikiranku terus menerus dibayangi wajah manis Imah dan seluruh keindahan tubuhnya yang mengundang. Entah berapa lama aku melamun, niatku untuk meniduri Imah timbul-tenggelam, silih berganti dengan rasa takut dan malu. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang meminta-minta tolong dengan lirih…

Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang dan segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara Imah. Sejenak aku berhenti di muka pintu kamarnya, tetapi entah mengapa, kini aku berani masuk.

Kudapati Imah tengah meringkuk di sudut ranjang sambil merintih-rintih lirih. Aku tercekat memandangi tubuhnya yang setengah telanjang. Daster yang dikenakannya tersingkap di sana-sini, memamerkan kemulusan pahanya dan sebagian buah dadanya yang montok. Sejenak aku mematung, menikmati keindahan tubuh Imah yang tergolek tanpa daya di hadapanku, di bawah siraman cahaya lampu kamar yang terang benderang. Otomatis kelelakianku bangkit. Hasratku kian bergelora, nafsu yang tertahan-tahan kini mendapat peluang untuk dilampiaskan. Dan setan-setan pun membujukku untuk langsung saja menyergap. “Dia tidak akan melawan,” batinku. “Jangan-jangan malah senang, karena memang itu yang dia harapkan…” Kuteguk liurku berulang-ulang sambil mengatur nafas. Untuk sesaat aku berhasil mengendalikan diri. Kuraih pundak Imah, kuguncang-guncang sedikit agar dia terbangun.

Gadis itu membuka mata dengan rupa terkejut. Posisinya menelentang kini, sementara aku duduk persis di sisinya. Jantungku bergemuruh. Dengan agak gemetar, kutepuk-tepuk pipi Imah sambil berupaya tersenyum kepadanya.

“Kamu ngigo’ yaa?” godaku. Imah tersipu.

“Eh, Bapak?! Imah mimpi serem, Pak!”

Suaranya lirih. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan gerakan agak menggeliat, dan itu malah membuat buah dadanya semakin terbuka karena dasternya sangat tidak beraturan. Aku jadi semakin bernafsu.

“Mimpi apaan, Mah?” tanyaku lembut.

“Diperkosa…!” jawab Imah sembari menunduk, menghindari tatapanku.

“Diperkosa siapa?”

“Orang jahat! Rame-rame!”

“Oooh… kirain diperkosa saya!”

“Kalau sama Bapak mah nggak serem…!”

Aku jadi tambah berdebar-debar, birahiku semakin membuatku mata gelap. Kurapikan anak-anak rambut Imah yang kusut. Gadis itu menatapku penuh arti. Matanya yang bulat memandangku tanpa berkedip. Aku jadi semakin nekad.

“Kalau sama saya nggak serem?” tanyaku menegaskan dengan suara agak berbisik sambil mengusap pipi Imah. Babu manis itu tersenyum.

Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami sudah berciuman. Aku tidak peduli lagi. Kusalurkan gejolak birahi yang selama ini tertahan dengan melumat bibir Imah. Dia membalas dengan tak kalah panas dan bernafsu. Dia bahkan yang lebih dahulu menarik tubuhku sehingga kami rebah di atas ranjang sembari terus berciuman.

Tanganku lasak meremas-remas buah dada Imah. Kupuaskan hasratku pada kedua gundukan daging kenyal yang selama beberapa hari terakhir ini telah menggodaku. Imah pun tak tinggal diam. Sambil terus membalas lumatanku pada bibirnya, tangannya merayap ke balik celana pendek yang kukenakan. Pantatku diusap-usap dan diremasnya sesekali dengan lembut.

Ketika ciuman terlepas, kami berpandangan dengan nafas memburu. Imah membalas tatapanku dengan agak sayu. Bibirnya merekah, seakan minta kucium lagi. Kusapu saja bibirnya yang indah itu dengan lidah. Dia balas menjulurkan lidah sehingga lidah kami saling menyapu. Kemudian seluruh permukaan wajahnya kujilati. Imah diam, hanya tangannya yang terus merayap-rayat di balik celana dalamku.

Aku jadi tambah bernafsu. Lidahku merambat turun ke leher. Imah menggelinjang memberi jalan. Terus kujilati tubuhnya yang mulai berkeringat. Imah menggelinjang-gelinjang hebat ketika buah dadanya kujilati. “Geliii..” desisnya sambil mengikik-ngikik, dan itu malah membuatku tambah bernafsu. Daging-daging bulat montok itu terus kujilati, kukulum putingnya, kusedot-sedot dengan rakus, tentunya sambil kuremas-remas dengan tangan.

Payudara Imah yang lembut kurasa semakin mengeras, pertanda birahinya kian meninggi. Lebih-lebih putingnya yang mungil berwarna merah jambu, telah amat keras seperti batu. Aku jadi semakin bersemangat. Sesekali mulutku merayap-rayap menciumi permukaan perut, pusar dan turun mendekati selangkangannya.

Imah mulai merintih dan meracau, sementara tangannya mulai berani meraba batang kemaluanku yang telah menegang sedari tadi. Kurasakan pijitannya amat lembut, menambah rangsangan yang luar biasa nikmat. Aku tidak tahan, tanganku balas merayap ke balik celana dalamnya. Imah mengangkang, pinggulnya mengangkat. Kugosok celah vaginanya dengan jari. Basah. Dia mengerang agak panjang ketika jari tengahku menyelusup ke dalam liang vaginanya, batang penisku digenggamnya erat dengan gemas. Aku semakin tidak tahan, maka kubuka celana pendek dan celana dalamku sekaligus.

Imah langsung menyerbu begitu batang kemaluanku mengacung bebas tanpa penutup apa pun lagi. Dengan posisi menungging, digenggamnya batang kemaluanku, lalu dijilat-jilatnya ujungnya seperti orang menjilat es krim. Tubuhku seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Bergetar, nikmat tak terkatakan.

“Imah udah tebak, pasti punya Bapak gede…” desis Imah tanpa malu-malu.

“Isep, Mah…!” kataku memberi komando.

Tanpa menunggu diminta dua kali, Imah memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

“Enak, Mah… enak banget…,” aku mendesis lirih, sementara tubuhku menggeliat menahan nikmat.

Imah semakin bersemangat mengetahui betapa aku menikmati hisapannya pada penisku. Batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan amat bernafsu sementara mulutnya mengulum dengan gerakan maju mundur. Sesekali lidahnya menjulur menjilat-jilat. Pintar sekali.

Belakangan baru kuketahui bahwa Imah itu seorang janda. Dia dipaksa kawin sejak usia 14 dengan lelaki berumur yang cukup kaya di desa. Ternyata suaminya seorang pemabuk, penjudi, dan mata keranjang. Satu-satunya yang disukai Imah dari lelaki itu adalah keperkasaannya di atas ranjang. Hanya itu yang membuatnya sanggup bertahan empat tahun berumah tangga tanpa anak. Baru setahun yang lalu suaminya meninggal, sehingga statusnya kini resmi menjadi janda.

Pantas saja nafsunya begitu besar. Dia mengaku bahwa hasrat seksualnya langsung bangkit kembali sejak pertama kali bertemu aku. Kenangan-kenangannya tentang kenikmatan bermain cinta terus menggodanya, sehingga diakuinya bahwa sejak hari itu dia terus berusaha untuk menarik perhatianku.

Nafsu yang menggebu-gebu, serta hasrat yang terpendam berhari-hari, membuat gadis itu menjadi liar tak terkendali. Sambil terus mengulum dan menjilat-jilat batang kemaluanku, tubuhnya beringsut-ingsut hingga mencapai posisi membelakangi dan mengangkangi tubuhku. Pantatnya yang bulat, besar seperti tampah, tepat berada di depan wajahku. Kuusap-usap pantatnya, lalu kuminta lebih mendekat sambil kuturunkan celana dalamnya. Dia menurut, diturunkannya pinggulnya hingga aku dapat mencium selangkangannya.

Terdengar dia mendesis begitu kujulurkan lidahku menyapu permukaan liang vaginanya yang merekah basah. Kedua pahanya mengangkang lebih lebar, sehingga posisi pinggulnya menjadi lebih ke bawah mendekati mukaku. Kini aku lebih leluasa mencumbu kemaluannya, dan aku tahu, memang itu yang diharapkan Imah.

Kusibakkan bulu-bulu halus di seputar selangkangan babu cantik yang ternyata mempunyai libido besar itu. Kugerak-gerakkan ujung lidahku pada klitorisnya. Kuhirup baunya yang khas, lalu kukenyot bibir vaginanya dengan agak kuat saking bernafsu. Imah merintih. Tubuhnya sedikit mengejang, hisapannya pada kemaluanku agak terhenti.

“Jangan berhenti dong, Maaaahh,” desisku sambil terus menjilat-jilat vaginanya.

“Imah keenakan, Pak…” jawab Imah terus terang. Lalu kembali dia mengulum sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku. Dengan bernafsu dia terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku sepenuhnya ke dalam mulutnya, tetapi tidak pernah berhasil karena ukuran tongkat wasiatku itu memang cukup luar biasa: gemuk, dan panjangnya hampir 20 cm!

Aku membalas dengan merekahkan mulut vaginanya dengan kedua tangan. Lubang surgawi itu menganga lebih lebar, maka kujulurkan lidahku lebih ke dalam. Imah membalas lagi dengan menghisap-hisap batang kemaluanku lebih cepat dan kuat. Aku tak mau kalah, kutekan pantatnya hingga kemaluannya menjadi lebih rapat pada mukaku, lalu kujilat dan kuhisap seluruh permukaan liang kemaluannya.

“Ooooohhh… Imah nggak kuattt….” terdengar Imah mengerang tiba-tiba. Aku tak peduli. Aku justru jadi semakin bersemangat dan bernafsu mencumbu kemaluan Imah. Gadis itu juga kian liar. Tangan dan mulutnya semakin luar biasa cepat mengerjai batang kemaluanku, sementara tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali. Aku tahu birahinya telah teramat sangat tinggi, maka kukomandoi dia untuk rebah menelentang, lalu segera kutindihi tubuh montoknya.

“Enak, Mah?” tanyaku.

“Enak banget, Pak… Imah nggak tahan…”

“Kamu mau yang lebih enak, kan?”

“Ya mau, dong…” Imah nampak masih sedikit malu-malu, tapi jelas dia tidak dapat lagi mengontrol nafsunya. Wajahnya yang biasanya lugu, kini nampak sebagai perempuan berpengalaman yang sedang haus birahi.

“Kamu pernah ngent*t, Mah?” tanyaku lembut, takut dia tersinggung. Tapi dia malah tersenyum, cukup bagiku sebagai pengakuan bahwa dia memang sudah pernah melakukan itu.

“Kamu mau?” tanyaku lagi. Imah menutup matanya sekejap sebagai jawaban.

“Buka dulu dasternya, ya?”

Dalam sekejap, Imah telah bertelanjang bulat. Aku juga membuka kaos, sehingga tubuh kami sama-sama bugil. Polos tanpa sehelai benang pun. Imah memintaku mematikan lampu kamar, tapi aku menolak. Aku justru senang menonton keindahan tubuh Imah di bawah cahaya lampu yang terang benderang begitu.

”Malu, ah, Pak…” kata Imah dengan nada manja, sementara aku memandangi sepasang payudaranya yang bulat, besar dan padat.

“Saya naksir ini sejak pertama kamu masuk,” kataku terus terang sambil mengecup puting susunya yang sebelah kanan, disusul dengan yang sebelah kiri.

“Imah tau,” jawab Imah tersipu. “Tapi Imah pikir, Bapak mana mau sama Imah?!”

“Sejak hari pertama, saya udah ngebayangin beginian sama kamu.”

“Kok sama sih?! Imah juga…”

“Bohong!”

“Sumpah! Apalagi abis liat Bapak gituan sama Ibu… Seru banget, Imah jadi ngiri…”

“Kamu ngintip, ya?”

“Bapak juga tau, kan?”

Sambil berkata begitu, tangan kanan Imah menggenggam batang penisku. Kedua pahanya mengangkang memberi jalan dan pinggulnya mengangkat sedikit. Digosok-gosokkannya ujung batang kemaluanku pada mulut vaginanya yang semakin basah merekah.

Aku membalas dengan menurunkan pinggulku sedikit. Saat itu di benakku terlintas wajah istri dan anakku, tetapi nafsu untuk menikmati surga dunia bersama Imah membuang jauh-jauh segala keraguan. Bahkan birahiku semakin bergelora begitu aku memandang wajah Imah yang telah sedemikian sendu akibat birahi.

“Paaak….” terdengar desis suara Imah memanggilku teramat lirih. Kedua tangannya mengusap-usap sambil sedikit menekan pantatku, sementara batang penisku telah penetrasi sebagian ke dalam vaginanya.

Kutekan lagi pinggulku lebih ke bawah. Batang penisku bergerak masuk inci demi inci. Kurasakan Imah menahan nafas. Kutahan sejenak, lalu perlahan justru kutarik sedikit pinggulku. Imah membuang nafas. Kedua tangannya mencengkeram pantatku. Aku mengerti, kutekan lagi pinggulku. Kembali Imah menahan nafas. Dua tiga kali kuulang seperti itu. Setiap kali, kemaluanku masuk lebih dalam dari sebelumnya. Dan itu membuat Imah keenakan. Dia mengakuinya terus terang tanpa malu-malu. “Bapak pinter banget…” desisnya sambil mencubit pantatku, sesaat setelah aku menekan semakin dalam. Batang penisku telah hampir amblas seluruhnya. Imah cukup sabar menikmati permainanku, tetapi akhirnya dia tidak tahan.

“Imah rasanya kayak terbang…” dia meracau.

“Kenapa?”

“Enakh… Masukin semua atuh, Paak… supaya lebih enak…” Berkata begitu, tiba-tiba kedua tangannya merangkul dan menarik leherku. Diciuminya mukaku dengan penuh nafsu.

“Imaaaahhh.” bisikku sambil membalas menjilat-jilat permukaan wajahnya.

“Paak…”

Aku jadi ikut-ikutan tidak tahan, ingin segera menuntaskan permainan. Maka dengan agak kuat kutekan pantatku dalam-dalam, sehingga batang kemaluanku terbenam sepenuhnya di liang vagina Imah. Anak itu mengerang lirih, “Ssshhh…. aaaahhhh…, sssssssshhhh….., aaaaaaaahhhh….”

Dalam beberapa menit, kami bersanggama dalam posisi konvensional. Aku di atas, Imah di bawah. Itu pun sudah teramat sangat luar biasa nikmat. Ternyata Imah pintar sekali. Pinggulnya dapat berputar cepat seperti gasing, mengimbangi gerakan penetrasiku pada vaginanya. Setengah mati aku mengatur gerakan sembari terus mengendalikan kobaran birahiku. Kadang aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, sesekali kucepatkan dan kukuatkan seakan hendak menjebol dinding vagina Imah.

Rupanya Imah termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya sampai-sampai tidak dapat lagi menghentikan perselingkuhan kami. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Imah membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali.

Tubuhnya tidak pernah berhenti bergoyang, seiring dengan erangan dan desahannya. Setiap kali aku menekan kuat-kuat, dia justru mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga kemaluan kami menyatu serapat-rapatnya. Bila aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya seperti penari jaipong. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Aku merasa dinding pertahananku hampir jebol. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari perlawanan Imah yang erotis sungguh tidak tertahankan lagi. Padahal baru beberapa menit. Aku segera mengendalikan diri, kutarik nafas panjang-panjang, lalu kutarik tubuhku dari tubuh Imah.

Aku menelentang, dan kuminta Imah menaiki tubuhku. Dia menurut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera nangkring di atas tubuhku. Diraihnya batang kemaluanku yang terus mengacung keras seperti tugu batu, dan diarahkannya kembali pada liang vaginanya.

Keringat menetes-netes dari wajahnya yang manis. Kuraih sepasang payudaranya yang bergelantung bebas, kuremas dan kuputar-putar dengan lembut. Imah mendesah sambil menekan pinggulnya agar batang kemaluanku melesak lebih dalam.

“Nggghhh….. sshhhh….aahhhh….,” kembali dia merintih dan mendesah.

“Kenapa, Maah?”

“Ennaakh…, enak, Paak….”

“Kamu pinter.”

“Bapak yang pinter! Imah bisa ketagihan kalau enak begini… Imah pingin ngent*t terus sama Bapak…”

“Kita ngent*t terus tiap hari, Mah…”

“Bapak mau?”

“Asal Imah mau.”

“Imah mau banget atuh, Pak. Enak banget ngent*t sama Bapak….”

“Ayo, genjot, Mah.. Kita main sampai pagi!”

Imah segera bergoyang lagi. Tubuhnya bergerak erotis naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan, ditingkahi rintihan dan desahannya yang penuh nafsu. Aku diam saja, hanya sesekali kuangkat pantatku agar kemaluan kami bertaut lebih rapat. Akibatnya aku jadi lebih mampu bertahan. Dalam posisi seperti itu, aku tahu bahwa perempuan biasanya akan lebih cepat mencapai klimaks. Memang itu yang kuharapkan.

Perhitunganku tidak salah. Tidak terlalu lama, goyangan Imah semakin erotis dan menggila. Naik-turun, maju-mundur, dengan kecepatan yang fantastis. Erangan dan rintihannya pun semakin tidak terkendali. Aku jadi semakin bersemangat karena mengetahui dia akan segera mencapai orgasme.

“Paaak…., adduuh…, enak banget… enak banget… enak, Pak…, yah… yah…, Imah enak…”

“Saya juga enak, Maah…, teruuusss….”

“Oooohhh…. enak banget siihhh…., adduuuhhh…., adduuhh……”

“Terus, Maah… enak banget… enak ngent*t ya, Maah…?”

“Enakh…, ngent*t enak…, Imah seneng ngent*t sama Bapak…, tongkol Bapak enak…”

“memiaw kamu gurih…”

“Ooohhhh…., yah…, yah…, yah…., Imah mau keluar, Paak…, Imah nggak kuatts…”

Tubuh Imah mengejang pada saat dia mencapai orgasme. Kepalanya mendongak jauh ke belakang. Mulutnya mengeluarkan rintihan panjang sekali. Saat itu kurasakan liang vaginanya berdenyut-denyut, menambah kenikmatan yang fantastis pada batang kemaluanku.

Setelah itu dia menelungkup lunglai di atas tubuhku. Nafasnya memburu setelah menempuh perjalanan panjang yang membawa nikmat bersamaku. Kubiarkan sejenak dia menenangkan diri sementara kemaluan kami masih terus bertaut rapat. Sesaat kemudian, baru aku berbisik di telinganya, “Saya belum lho, Mah…?!”

Imah menengadah, mengangkat wajahnya menatapku. Dikecupnya bibirku.

“Kan mau sampai pagi?!” katanya dengan nada menggemaskan.

“Kamu mau istirahat dulu?”

“Nggak… terus aja, Pak.. Imah masih keenakan, kok…”

Sejenak kami berciuman. Dapat kurasakan jantung Imah masih bergemuruh, pertanda birahinya memang masih tinggi. Kuusap-usap pantatnya yang telanjang sementara kami berciuman rapat. Kemudian kugulingkan tubuhku, sehingga Imah kembali berada di bawah.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Imah. Dia menatapku dengan rupa tidak mengerti. Kuberikan dia senyuman, lalu kuminta dia menelungkup. Imah mengerti sekarang, maka lekas-lekas dia menelungkup sambil cekikikan.

“Nungging, Mah…” kataku memberi komando.

Imah mengangkat pinggulnya hingga menungging seperti permintaanku. Aku dapat melihat mulut vaginanya yang merekah dari belakang. Kudekatkan mukaku, kucium mulut vaginanya, dan kupermainkan klitorisnya sejenak dengan ujung lidah. Imah merintih lirih, pantatnya mengangkat lebih tinggi sehingga mulut vaginanya merekah lebih lebar di depan mukaku. Kumasukkan lidahku lebih dalam, kemudian kusedot mulut vaginanya sampai berbunyi.

“Bapak emang pinter banget…” desis Imah sembari menggelinjang menahan nikmat.

“Kita tancap lagi ya, Maah…?!”

“Sampai pagi……..?!”

Aku berlutut di belakang tubuh Imah yang menungging. Pantatnya mencuat tinggi ke belakang guna memudahkanku menusuk kemaluannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang kusut. Kepalanya terkulai. Kudengar dia mendesah lirih ketika batang kemaluanku perlahan menerobos masuk lewat belakang.

Kedua tanganku mencengkeram pantat Imah. Sejenak aku berhenti. Imah menoleh ke belakang karena tidak sabar. Kutekan lagi perlahan-lahan, sehingga dia kembali mengerang dengan kepala terkulai ke depan. Aku berhenti lagi. Kuusap-usap pantatnya, kucengkeram agak kuat, lalu kurekahkan dengan kedua tangan. Imah menoleh lagi ke belakang.

Tepat pada saat itu aku menekan kuat-kuat. Deg! Tubuh Imah sampai terdorong ke depan. Dia langsung membalas memundurkan pantatnya, diputar-putar, berusaha keras agar batang penisku masuk lebih dalam. Agak susah karena ukurannya super king.

Kembali dia menoleh ke belakang. Kutekan lagi kuat-kuat! Kini Imah sudah siap. Bersamaan dengan gerakanku, dia menyambut dengan mendorong pantatnya kuat-kuat ke belakang. Slep! Batang kemaluanku menyeruak masuk. Kutahan sejenak, lalu kudorong lagi sekuat-kuatnya. Imah kembali menyambut dengan gerakan seperti tadi. Kali ini dia mengerang lebih keras karena batang penisku masuk hingga menyentuh dinding rahimnya.

“Sakit, Mah?” tanyaku.

“Nggak… malah enak…, terusin, Paak…Imah belum pernah main kayak gini…”

Sambil menikmati bertautnya kemaluan kami, kupeluk erat tubuh Imah dari belakang. Kuciumi tengkuknya. Imah berusaha menoleh-noleh ke belakang, berharap aku menciumi bibirnya. Sesekali kuturuti permintaannya sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang memuai semakin montok.

Kugerak-gerakkan pinggulku dengan irama lembut dan teratur, kunikmati bertautnya kemaluan kami dalam posisi “anjing kawin” itu sembari menciumi tengkuk dan leher Imah. Gadis itu menggeliat-geliatkan tubuhnya, pinggulnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

Beberapa menit kemudian, nafas Imah mulai memburu kembali. Itu pertanda birahinya mulai meninggi, mendaki puncak kenikmatannya kembali. Maka aku mulai mengambil posisi. Kedua tanganku berpegangan pada pinggang Imah, sementara dia pun mengatur posisi pinggulnya supaya lebih memudahkan aku. Setelah itu dia menoleh ke belakang memandangiku. Tatapannya amat sayu, dan aku tahu, itulah tatapan perempuan yang sedang tinggi birahinya.

Aku mulai bergerak maju mundur. Satu dua, dengan irama teratur. Nafas Imah semakin kencang terdengar, seiring dengan semakin kuatnya hunjaman batang kemaluanku pada liang vaginanya. Aku memompa terus. Semakin lama semakin cepat dan kuat. Imah semakin terengah-engah. Tubuhnya berguncang-guncang, sesekali sampai terdorong jauh ke depan, tapi tidak sampai terlepas karena kutahan pinggangnya dengan kedua tangan.

Tubuh kami yang telanjang bulat dibanjiri peluh. Lebih-lebih Imah, keringatnya menciprat ke mana-mana karena tubuhnya berguncang-guncang. Itulah bagian dari erotisme Imah yang sangat aku suka. Belum pernah aku merasakan sensasi bersetubuh yang senikmat ini. Kurasakan ejakulasiku telah dekat, tapi kutahan sebisaku karena aku belum ingin segera menyudahi kenikmatan yang tiada tara ini. Kugigit bibirku kuat-kuat, sementara hunjaman penisku terus menguat dengan irama yang super cepat.

Imah semakin erotis. Nafasnya liar seperti banteng marah, erangannya bercampur dengan rintihan-rintihan jorok tiada henti.

“Ooohh…, aaahhh…, ohhh…, aahhhh…, teruuss, Paak…, teruuusssss…, Imah enak…, enak banget…, adduuuh, Maak…, Imah lagi keenakan nih, Maak…, oohhh… aaahhh…, terus, Paak… yah… yahhh… adduuuuh….. sssshhh…. Maaak….., Imah lagi ngent*t nih, Maak…, enaknyahhh…, adduuuhhh…., ooohh…, yaahhh… yaahhhhhhh…, terruuuusssss…”

Suara Imah keras sekali, tapi aku tidak peduli. Justru mendatangkan sensasi yang menambah nikmat. Toh tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali anakku yang sedang tidur lelap. Maka terus kucepatkan dan kukuatkan sodokan-sodokanku. Imah semakin tidak terkendali. Orgasmenya pasti sudah dekat, seperti aku juga.

Ketika kurasakan ejakulasiku telah semakin dekat, kucabut tiba-tiba penisku dari dalam liang surgawi Imah. Dengan gerak cepat, kubalikkan posisinya hingga menelentang, lalu secepat kilat pula kutindih tubuhnya dan kumasukkan kembali batang penisku. Imah menyambut dengan mengangkat pinggul agak tinggi, kedua pahanya mengangkang selebar-lebarnya memberi jalan.

Vaginanya telah teramat sangat basah oleh lendir sehingga memudahkan batang penisku segera masuk. Tapi tetap saja aku harus menekan agak kuat karena mulut vaginanya kecil seperti perawan, sementara batang kemaluanku besar dan keras seperti pentungan kayu.

Kurasakan spermaku telah menggumpal di ujung batang kemaluanku, siap untuk dimuntahkan. Kulihat Imah pun sudah hampir mencapai klimaks. Maka, langsung saja kutancap lagi, cepat, kuat, dan kasar. Imah menjerit-jerit mengiringi pencapaian puncak kenikmatannya.

“Ssshhh….. aaahhh…, oooooohhh…, tongkol Bapak enak banget siiihhh…, adduuhhh…., terruuusss…., yaaaaahhh…”

“Enak, Maah?”

“Enak bangeet…., Imah mau ngent*t terus kalau enak begini..…. tongkol Bapak lezat…, addduhhhh…, tuuhh… yahh…, tuuhh… adduhhh…, enak banget siiihhh….”

“Puter terus, Maah… yah… yah…”

“Ohhh… enak banget, Paak…, enak bangeettt…., Imah doyan tongkol Bapak…, enak ngent*t dengan Bapak…, Imah pingin ngent*t terussss…, addduuuhhhh…., enaknyaahhhh….”

“Saya hampir keluar, Mah…”

“Imah juga, Pak…, bareng…, bareng…., yahh…, teruusss… sodok…, yahhhh… terrrussss… yahhh… terusss… sedaaap… asyiiik…, yah… gituuhhh… yahhh…. yahhh… oooooohhh…”

Imah mengejang lagi, dia mencapai orgasmenya yang kedua. Pinggulnya terangkat setinggi-tingginya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhku luar biasa erat. Pada detik bersamaan, aku pun mencapai puncak kenikmatanku. Air maniku menyembur-nyembur banyak sekali di dalam rongga vagina Imah. Bibir kemaluannya serasa berkedut-kedut menghisap batang kemaluanku hingga spermaku muncrat berkali-kali dan keluar sampai tetes terakhir. Luar biasa, sungguh belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini.

Kami terdiam dengan tubuh menelentang sesudah itu. Hanya desah nafas kami yang tersisa di tengah-tengah keheningan. Mataku tertumbuk pada jam dinding. Hampir pukul empat. Entah berapa jam aku telah menghabiskan waktu, mereguk kenikmatan bersama pembantu bernama Imah ini.

Pikiran warasku mulai kembali. Apa yang telah kulakukan ini? Mendadak muncul penyesalan di dalam hati, tetapi jujur harus kuakui betapa aku teramat sangat luar biasa menikmati perilaku yang gila ini.

Rupanya Imah pun mengalami gejolak perasaan serupa. Mulanya dia sangat menyesali perbuatan kami barusan, dia menangis terisak-isak sambil memiringkan tubuh membelakangiku. Aku sempat ketakutan.

“Kamu kenapa, Mah?” bisikku sambil merangkulnya dari belakang.

“Imah malu…” jawab Imah di tengah isaknya yang semakin menjadi. Perlahan kubalikkan badannya. Lalu kupeluk dia erat-erat tanpa berkata apa pun, sampai tangisnya reda.

Berpelukan dalam keadaan bugil dengan gadis semanis Imah tentu saja membuat birahiku terangsang kembali. Batang kemaluanku mulai bangkit mengeras. Namun perkataan Imah membuatku tersadar. Seharusnya aku yang malu. Maka tanpa berkata berkata-kata lagi, kutinggalkan Imah seorang diri. Dalam hati aku bertekad untuk tidak akan pernah mengulang perbuatanku tadi.

Aku tidur nyenyak sekali sampai hampir pukul sebelas. Perjalanan panjang mendaki puncak kenikmatan membuat tidurku seperti orang mati. Tubuhku terasa segar sekali sesudah itu.

Kudapati Imah tengah bermain dengan anakku Gavin di ruang keluarga. Mengetahui aku sudah bangun, dia segera menyiapkan sarapan untukku: kopi susu hangat, roti isi kornet kesukaanku, serta dua butir telur ayam setengah matang. Walaupun dia tidak berkata apa pun, kurasakan kemesraan yang luar biasa dalam pelayanannya itu. Darahku kontan berdesir-desir. Apalagi saat itu dia mengenakan daster longgar yang amat pendek. Pahanya yang putih mulus serta tonjolan buah dadanya yang super montok membuatku hampir tidak tahan ingin memeluknya. Berani bertaruh, dia juga merasakan hasrat yang sama denganku.

Tapi aku sudah bertekad bulat untuk mengalahkan nafsuku sendiri. Kualihkan pikiran jorokku dengan berkonsentrasi membaca koran mingguan sembari menyantap sarapan yang disediakan Imah. Sesudah itu lekas-lekas aku pergi mandi. Aku harus menghindari kesempatan berduaan dengan Imah. Maka, siang itu aku pergi membawa Gavin ke rumah mertuaku.

“Nggak makan siang dulu?” tanya Imah perlahan sekali, suaranya seperti orang yang sangat merasa bersalah. Aku jadi kasihan. Seharusnya dia tidak perlu salah tingkah seperti itu, tetapi aku tidak mau membahasnya karena takut berdampak negatif.

Gavin bermain dengan riang gembira di rumah neneknya. Banyak yang menemani dia di sana. Aku jadi bebas beristirahat, tapi itu malah membuat banyak peluang untuk mengingat-ingat dan melamunkan Imah.

Sambil rebahan menatap langit-langit kamar, aku terbayang pada keindahan tubuh babu itu. Aku ingat bagaimana sexy-nya dia ketika mengenakan t-shirt ketat. Buah dadanya membusung, memamerkan ukurannya yang besar serta bentuknya yang bulat. Lalu terbayang ketika sepasang payudara itu telah kutelanjangi. Benar-benar montok dan bagus. Lingkar dadanya tidak besar, karena tubuh anak itu memang relatif mungil, tetapi bulatannya luar biasa montok dan kenyal.

Otomatis aku jadi membayangkan keseluruhan tubuh Imah yang telanjang. Anak itu mungil, tetapi dagingnya kenyal dan padat. Aku paling suka dadanya, tetapi yang lain-lain pun indah sekali. Kulitnya luar biasa halus mulus, putih seperti susu. Pinggul dan pantatnya besar, kontras dengan pinggangnya yang ramping. Terakhir, yang membuat darahku serasa bergolak dan mulai memanas adalah bayangan indah kemaluan Imah: bentuknya yang tebal menggunung, bulu-bulu hitam keritingnya yang tidak terlalu lebat, sampai belahannya yang merah merekah dibasahi cairan lendir pelumas, dihiasi klitoris yang menyembul-nyembul. Ahhh, aku tidak dapat lagi menghentikan lamunanku. Kucoba-coba membaca majalah untuk mengusir jauh-jauh bayangan Imah, tapi tidak berhasil. Batang kemaluanku yang sudah telanjur naik tidak mau turun-turun lagi. Aku jadi resah. Alih-alih bisa melupakan Imah, aku justru teringat betapa erotisnya dia ketika tengah kusetubuhi semalam.

Semua tergambar jelas di benakku, seakan-akan videonya diputar di langit-langit kamar. Birahiku naik semakin tinggi, teringat bagaimana tubuh telanjang Imah menggelepar-gelepar menikmati hunjaman batang penisku pada vaginanya. Juga erangan-erangannya yang jorok. Aku benar-benar tidak tahan.

Tiba-tiba otakku mengkalkulasi waktu. Saat ini baru pukul satu lewat sedikit. Kalau kutinggalkan Gavin di rumah ini, lalu kujemput lagi nanti malam, maka aku akan punya waktu bebas setidaknya delapan jam bersama Imah!

Dengan kesadaran penuh, kumatikan akal sehatku. Aku pulang sendirian. Tentu saja Imah yang membukakan pintu pagar karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah. Mengetahui tidak ada Gavin, dia memandangku dengan mata berbinar-binar. Aku pura-pura tidak tahu. Belakangan Imah mengakui bahwa saat itu dia girang sekali karena memang dia tengah mengharapkan aku datang sendirian tanpa Gavin. Sepanjang pagi dia menyesali apa yang telah kami lakukan semalam, tetapi sama seperti aku, ujung-ujungnya dia mengharapkan itu terulang kembali.

Rasa gengsi membuatku berusaha mengendalikan diri agar perasaanku tidak nampak. Aku tidak ingin Imah tahu bahwa aku ketagihan menidurinya. Dengan diam, aku langsung berlalu masuk kamar. Aku berharap Imah masuk, tetapi ternyata tidak. Lalu aku duduk di ruang keluarga menonton TV dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet. Kudengar suara Imah di dapur, kesal sekali rasanya karena dia tidak datang menemuiku. Apakah dia benar-benar menyesal sehingga tidak ingin mengulangi kenikmatan itu lagi?

Karena tidak tahan, akhirnya kupanggil dia. Dalam hati aku bertekad, biar aku “mengalah”, tapi nanti akan kubuat dia merengek-rengek.

Imah berjalan dengan mata menunduk menghampiriku. Batang penisku langsung bangun mengeras, tapi aku tetap tenang. Kupersilakan Imah duduk, setelah itu baru aku bicara.

“Mah, saya mau ngomong jujur sama kamu.”

“Ngomong apa, Pak?”

“Soal tadi malem, saya terus terang nyesel, Mah. Saya malu. Saya pikir, seharusnya kita nggak ngelakuin itu…”

“Iya, apalagi Imah, malu banget sama Bapak…”

“Saya kepingin ngelupain itu, Mah. Sejak tadi pagi, saya niat untuk nggak ngelakuin itu lagi. Dengan kamu, atau dengan siapapun selain istri saya. Tapi…,”

Imah mengangkat wajah menunggu aku menyelesaikan kalimat.

“Tapi apa, Pak?” Dia penasaran. Aku tersenyum, lalu perlahan kuturunkan celana pendek beserta celana dalamku sekaligus. Batang kemaluanku langsung berdiri tegak tanpa penghalang.

“Adik saya ini nggak mau disuruh ngelupain kamu…!” kataku. Kontan muka Imah memerah, kemudian dia tersenyum malu-malu. Tanpa kusuruh, dia bangkit lalu berlutut di hadapanku. Cepat dia melucuti celana pendek beserta celana dalamku. Kemudian batang penisku digenggamnya dengan dua tangan. Seperti orang melepas kangen, sekujur tongkat wasiatku itu diciuminya bertubi-tubi., sementara kedua tangannya mengurut-urut dengan lembut. Aku membalas dengan mengusap-usap rambutnya.

Sejenak Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya mulai sayu, pertanda dia telah terserang birahi. Kemudian lidahnya menjulur panjang. Topi bajaku dijilatnya dengan satu sapuan lidah. Aku menggelinjang. Otomatis batang penisku mengedut, dan gerakan itu rupanya menambah gemas Imah. Lidahnya jadi semakin lincah menjilat-jilat. Buah zakarku pun kebagian. Aku semakin tidak kuat menahan nikmatnya. Kedua pahaku mengangkang lebih lebar, pinggulku mengangkat sedikit, dan itu dimanfaatkan Imah untuk terus menjilat-jilat sampai ke belahan pantatku. Gila, ternyata rasanya luar biasa nikmat! Belum pernah aku merasakan lubang pantatku dijilat seperti ini.

“Enak banget, Mah… Kamu pinter banget,” aku mengaku terus terang. Kembali Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya semakin sayu. Sejenak dia mencoba tersenyum, ada rasa bangga di wajahnya bisa membuatku keenakan seperti itu. Lalu mulutnya menganga lebar, batang kemaluanku dikulumnya dengan lembut, masuk perlahan-lahan sampai tiga perempatnya.

“Gede banget, siiih…??!” dia mendesis sambil menarik mulutnya dari batang penisku. “Imah kepingin masukin semua, nggak bisa! Nggak muat!”

Aku tersenyum saja. Kutekan sedikit kepalanya, dia mengerti, kembali batang penisku dimasukkannya ke dalam mulut. Kali ini dijejal-jejalkannya terus, tapi tetap tidak berhasil karena ukurannya yang super besar memang tidak memungkinkan. Matanya memandangku lagi sementara mulutnya terus mengulum sembari mengocok-ngocok batang penisku dengan tangan. Aku memberinya senyuman membuat dia senang.

“Pak, Imah juga pingin ngomong jujur,” tiba-tiba Imah berkata. Kedua tangannya kembali mengurut-urut batang penisku dengan mesra, sementara matanya sayu menatapku.

“Ngomong apa?”

“Imah sempet malu karena tadi malem Imah kayak orang kesurupan. Imah emang gitu kalo’ bener-bener keenakan, Pak.”

“Tapi kamu nggak nyesel, kan?”

“Ya nggak. Imah cuma malu sama Bapak…”

“Emangnya enak ya, Mah?”

Imah tidak menjawab. Dia berdiri sembari menurunkan sendiri dasternya. Batang penisku kembali mengedut kuat, menyaksikan tubuh Imah menjadi telanjang, tinggal bercelana dalam. Sedari tadi dia memang tidak mengenakan BH. Kuraih tubuhnya agar lebih mendekat dengan melingkarkan kedua tanganku pada pantatnya yang bulat.

Imah menggeliat kecil sementara pantatnya kuusap-usap. “Buka, ya?” kataku seraya menurunkan celana dalamnya, tanpa menunggu persetujuan. Seketika kemaluannya terpampang telanjang di depan mukaku. Aku menengadah menatap matanya, dan dia tersipu. Mungkin malu, tangannya bergerak hendak menutupi selangkangannya, tapi kucegah. “memiaw kamu bagus,” kataku sambil membelai bulu-bulu hitam kemaluannya. Otomatis pinggulnya meliuk, mungkin dia kegelian. Aku malah tambah senang, gantian lidahku yang mengusap pangkal pahanya. Tentu saja dia semakin kegelian.

Beberapa saat lidahku menari-nari di seputar perut dan pangkal pahanya. Imah menikmati perlakuanku dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Kadang berputar perlahan, sesekali didorongnya maju mendesak mukaku. Aku jadi gemas, maka jemariku mulai beraksi. Imah mengangkang sambil menekuk lututnya sedikit ketika dirasakannya jari tengahku menyusup ke belahan vaginanya yang mulai basah.

Dari satu jari, dua jariku masuk, disusul jari ketiga. Imah mulai merintih. Pinggulnya bergerak menjauh, tetapi ketika tusukan jemariku mengendur, dia justru memajukan lagi pinggulnya. Aku jadi semakin “hot” menggosok-gosok mulut vaginanya dengan jari. Erangan dan desahan Imah mulai menjadi-jadi. Lututnya gemetar, mungkin tidak kuat menahan gelora birahi.

“Imah lemess…” desisnya.

Tiba-tiba dia duduk mengangkang di pangkuanku. Tanpa ada rasa sungkan dan malu-malu lagi, leherku dipeluknya erat-erat sembari menyodorkan buah dadanya ke mukaku. Aku jadi gelagapan. Buah dadanya yang montok menutupi hampir seluruh wajahku. Imah mengikik. Dengan gemas, kugigit puting susunya sedikit, sehingga dia mengendurkan pelukannya. Baru aku lebih leluasa. Kuciumi buah dadanya yang sebelah kiri, kujilat dan kukenyot-kenyot putingnya, sementara yang kanan kuremas-remas dengan tangan. Kurasakan payudaranya mulai memuai semakin montok, dan putingnya mulai mengeras.

Sesekali aku juga menciumi sekitar ketiak Imah yang berkeringat. Aku suka bau badannya, harum seperti bayi. Keringatnya kuhisap dan kujilat-jilat. Imah menggelinjang semakin “hot”.

Beberapa saat kemudian, Imah menggerak-gerakkan pinggul dan meraih batang penisku. Sambil terus menikmati cumbuanku pada buah dadanya, dia berusaha menjejal-jejalkan batang penisku pada mulut vaginanya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dia mulai kesal, desahannya semakin kuat dengan erangan-erangan tertahan. Batang penisku terus digosok-gosokkannya di belahan vaginanya yang basah, tetapi dia belum berhasil memaksanya masuk.

Kami lalu bertukar posisi. Aku bangkit, Imah duduk. Lalu kurebahkan tubuhnya. Dia melonjorkan sebelah kakinya di lantai, sementara yang sebelah lagi disangkutkannya di sandaran sofa. Posisinya itu membuat kemaluannya merekah, mempertontonkan belahannya yang merah basah. Kelentitnya menyembul. Aku tidak membuang waktu, langsung kucumbu kemaluannya dengan mulut dan lidah. Dia mengerang, “Uddaah, Paak….”

Aku tidak peduli karena aku memang masih ingin bermain-main. Imah sendiri mulai tidak terkendali. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat dengan irama liar tak beraturan. Nafasnya memburu, mulutnya mengeluarkan desah dan erangan tak henti-henti. “Uddahh, Paak…, uddaaaahhh…, Imah nggak kuaattt……”

Mengetahui dia mulai dikuasai birahi, aku justru tambah senang. Pantatnya kuangkat. Imah mengangkang lebih lebar, sehingga kemaluannya semakin merekah. Mulut vaginanya menganga. Kusodokkan lidahku lebih dalam, kugoyang-goyang ujungnya dengan cepat, lalu kukenyot klitorisnya. Dia menjerit. Kembali kugosok-gosok seluruh dinding vaginanya dengan lidah, sementara kelentitnya kutekan dan kuusap-usap dengan ibu jari. Lendirnya jadi semakin banyak, pertanda birahinya semakin tinggi.

Tiba-tiba Imah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menekan kepalaku kuat-kuat pada selangkangannya. Tubuhnya mengejang. Kutekan mulutku pada vaginanya, lidahku menjulur lebih dalam, lalu kukenyot dengan suatu hisapan panjang. Terdengar erangan Imah. Tubuhnya menggelepar-gelepar menyongsong detik-detik pencapaian orgasmenya, kutambah nikmatnya dengan terus mengenyot mulut vaginanya yang asin berlendir.

Setelah itu tubuh Imah agak sedikit lunglai. Nafasnya memburu. Kutindihi tubuh bugilnya. Kuciumi mukanya yang berkeringat. Dia tersenyum.

“Keenakan, ya?” godaku. Dia mengangguk. Tangannya meraih batang penisku. “Masukin yuk, Pak…”

Imah tidak berkata-kata lagi karena mulutnya kusumbat dengan suatu ciuman bibir yang panas dan panjang. Lidah kami saling membelit, menghisap, dan menjilat-jilat. Sementara itu kedua buah dadanya habis kuremas-remas. Kurasakan sepasang payudara indah itu telah amat keras dan padat. Lalu kembali kuraba selangkangannya. Vaginanya merekah menyambut usapan jariku, dan kelentitnya menyembul. Basah.

Sengaja aku mencium bibir Imah agak lama, aku ingin birahinya cepat meninggi. Rasanya aku berhasil. Dia semakin tidak sabar ingin menuntun batang kemaluanku memasuki liang surgawi miliknya. Aku pura-pura tidak tahu. Tubuhku menindihinya agak menyamping, sehingga batang kemaluanku menekan pahanya. Sambil terus berciuman bibir, justru jemariku yang kembali aktif menggerayangi vagina Imah.

Imah yang lebih dulu melepas ciuman. Nafasnya terengah-engah. Birahinya pasti telah cukup tinggi. Kembali terang-terangan dia memintaku segera memasukkan batang kemaluanku. Dia tentu tidak tahu bahwa aku tengah berniat mempermainkannya sedari tadi. Akan kubuat dia merengek-rengek sekaligus akan kuberikan dia kenikmatan yang takkan terlupakan.

Kebetulan sekali telepon berdering.

“Angkat dulu,” kataku. “Kalo’ dari Ibu, bilang saya ke rumah Nenek.”

Imah mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat telepon. Ternyata betul, itu dari istriku. Aneh, kejadian itu malah mendatangkan sensasi yang justru membuat birahiku semakin tinggi. Nikmat rasanya bercumbu dengan babu, sementara dia tengah menelepon dengan istri sendiri.

Maka, kusuruh Imah menelentang di sofa sambil terus menelepon. Kebetulan meja telepon terletak persis di sebelah sofa. Kedua kakinya kukangkangkan lebar-lebar. Kukecup-kecup klitorisnya, membuat Imah tergagap-gagap menjawab telepon.

“Oh, eh, nggak tau, Bu,” katanya. Rupanya istriku sudah terlebih dahulu menelepon ke rumah ibunya, sehingga dia tahu bahwa aku tidak ada di sana. Tapi tentu saja dia tidak curiga. Dia hanya bertanya mengapa suara Imah terdengar seperti terengah-engah.

“Anu… saya tadi lagi di depan, Bu…, jadi lari-larian…” Imah menjawab sekenanya, sementara pinggulnya mengangkat-angkat saking keenakan vaginanya kukenyot-kenyot.

Celaka bagi Imah, istriku mengajaknya ngobrol agak lama. Rupanya dia memesankan banyak hal, terutama yang menyangkut urusan menjaga Gavin. Aku terus menggodanya dengan cumbuan yang justru semakin menggila. Batang kemaluanku bahkan kujejal-jejalkan ke mulutnya, sehingga dia menelepon sambil mengulum. Untungnya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Itu pun kadang-kadang dia agak gelagapan.

“Kamu denger nggak sih?” rupanya suatu ketika istriku bertanya karena merasa tidak mendapat respon.

“Mmm..mmm….” Imah kerepotan melepas batang penisku dari kulumannya. “Ya, Bu…, saya ngerti…” Istriku bicara panjang lebar lagi, maka kembali kusuruh Imah mengulum.

“Mmm… mm..mm…” dia merespon omongan istriku sambil terus mengulum, sementara sebelah tangannya tidak lupa mengocok-ngocok batang penisku. Lama-lama istriku curiga. Tapi tentunya dia tidak berpikir sejauh itu, dia hanya mengira Imah menelepon sambil makan permen. Imah mengiyakan.

“Iya, Bu… permen lolipop…,” katanya sambil menjilat topi bajaku yang merah mengkilat. Istriku marah. “Maaf, Bu…” kata Imah lagi. “Abis, permennya enak bangetth…”

Imah semakin berani. Dia kemudian malah berdiri, batang penisku digenggamnya kuat-kuat, lalu dijejalkannya ke mulut vaginanya. Kuturuti kemauannya. Sambil berdiri, kutahan pantat bulatnya, kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, lalu kutekan perlahan-lahan. Vaginanya telah amat basah oleh lendir pelumas, sehingga batang penisku dapat dengan mudah menyelusup. Imah menahan nafas.

“Buu… uddahh, ya? Saya mau… bbhuang airrr….” Berkata begitu, Imah langsung menutup telepon, lalu bermaksud melayani persanggamaan yang baru kumulai.

Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leherku, memelukku erat-erat, lalu mencium bibirku lumat-lumat. Aku balas melumat bibirnya dengan tidak kalah panas. Sementara itu, kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat. Imah menggoyang-goyangkan pinggulnya, berusaha agar batang kemaluanku masuk lebih jauh ke dalam vaginanya. Aku sendiri tidak bergerak, kubiarkan Imah berusaha sendiri.

Beberapa saat kemudian, Imah melepas ciuman. Nafasnya menghambur, panas memburu seperti lokomotif. Pinggulnya terus menggeliat-geliat, berputar dengan irama lambat. Dia jelas mulai tidak tahan. Dipeluknya tubuhku lebih ketat, lalu dia berbisik persis di telingaku,

“Ayuk, Paak…”

“Ayuk apa?” godaku. Imah tidak menjawab, melainkan mendorong pinggulnya sembari menahan pantatku dengan tangan. Rupanya dia masih dapat mengontrol diri, sedapat mungkin dia tidak ingin kelihatan liar seperti peristiwa pertama tadi malam. Aku tambah bersemangat ingin menggodanya. Pokoknya dia harus merengek-rengek kepadaku!

Sambil mengangkat pantatnya, kuperintahkan Imah menaikkan kedua kakinya lalu melingkarkannya di belakang pantatku. Kedua tangannya melingkar erat di leherku. Sementara itu, kemaluan kami tetap bertaut. Imah mengikik, posisinya persis anak monyet sedang digendong induknya. Aku tahu betul, posisi itu akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa baginya.

Benar saja, sebentar kemudian dia mulai mendesah-desah keenakan. Lebih-lebih setelah aku membawanya berjalan. Setiap aku melangkah, dia menahan nafas, lalu menghamburkannya dengan sedikit erangan tertahan. Semakin cepat aku melangkah, desah dan erangannya semakin kuat.

“Uddah, Paak…, uddaahhh….” desisnya setelah beberapa saat. Seperti yang sudah-sudah, itu berarti dia minta aku menyelesaikan permainan karena orgasmenya sudah dekat. Aku berhenti melangkah. Kusandarkan tubuh Imah ke meja makan. Dia mengangkat pantatnya sedikit. Sebelah kakinya setengah menjinjit ke lantai, sebelah lagi terangkat tinggi ke samping. Vaginanya jadi merekah, siap menerima hunjaman batang penisku. Tapi aku hanya menekan perlahan dengan gerakan satu-dua. Imah jadi penasaran.

“Ayuk, Paak…” pintanya lagi seperti tadi.

“Ayuk apa?” godaku lagi. Imah kembali tidak menjawab. Digeliatkannya tubuhnya sambil membuang wajahnya jauh ke belakang. Aku memutar pinggulku, lalu menekan lagi satu-dua. Pelan sekali.

“Yang kenceng dong, Paak…” desah Imah akhirnya.

“Begini?” aku mempercepat gerakanku dua-tiga kali.

“Yah, yah, terrusss…”

“Enak, Mah?”

“Enak bangetts…”

“Kamu doyan?”

“Doyan bangettt…, adduuuhhhh…, yahh…, yaahhh….”

Kulambatkan lagi gerakanku.

“Emangnya begini nggak enak?” godaku.

“Enaak…, tapi Imah mau yang kenceng…!!”

“Gini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Iyyahhh…, terruuusss…”

“Enak, Maah?”

“Enak…”

“Bilang dong! Bilang enak, bilang kamu doyan…”

“Enak…, Imah doyan…”

“Doyan apaan?”

“Aaang…, Bapak?!” Imah tersipu-sipu

“Ya udah, kalo’ nggak mau bilang…” Aku berpura-pura bergerak hendak mencabut penisku. Imah buru-buru menahan pantatku. “Iya, iya, Imah bilang! Imah doyan….” mata Imah semakin sayu dan suaranya berbisik lirih namun sangat jelas, “…doyan….. ngenthooot!”

Kucepatkan gerakanku sebagai “upah” karena dia sudah mau bicara terus terang. Matanya terpejam sedikit. Aku melambat lagi. Imah membuka mata kembali, tatapannya bertambah sayu. Kujulurkan lidahku, dia menyambut dengan juluran lidah pula. Ujung lidah kami beradu, bermain-main beberapa saat, lalu kembali kami berciuman. Lumat, tandas, sementara pinggulku bergerak maju-mundur mulai semakin cepat.

Ketika ciuman kulepaskan, Imah merebahkan badannya, telentang di atas meja. Dia nampak amat tidak berdaya diamuk birahi. Orgasmenya pasti sudah dekat. Aku hampir tidak tega, tapi aku ingin mendengar omongan-omongan joroknya seperti semalam. Aku suka erotisnya.

Maka gerakanku kuatur sedemikian rupa agar rasanya menggantung. Lambat tidak, cepat pun tidak. Sesekali bahkan kudiamkan batang penisku terbenam sebagian di liang vaginanya, lalu kuputar-putar pinggulku. Imah mengerang-erang, mendesah, menggeliat, dan mulai lupa diri.

“Bapaak…, ayuk, doong…..” desah gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar menahan birahi.

“Ayuk apa?”

“Ngenthooothh…., Imah mau ngent*t sama Bapak…, Imah doyan tongkol Bapaak… tongkol Bapak enak, gemuk, panjang, memiaw Imah rasanya penuh bangettt…”

“Ini kan kita lagi ngent*t?”

“Iya, tapi yang kenceng atuuuh! Imah nggak kuat, Paak…, Imah hampir keluar!”

“Begini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Yah, yah, terruuuss…, yaaaahhh….”

Terus kucepatkan hunjamanku. Lebih cepat, semakin cepat, cepat sekali. Imah sampai menjerit-jerit. Tubuhnya menggelepar-gelepar di atas meja. Keringatnya menciprat ke mana-mana. Birahinya tinggal selangkah lagi mencapai puncak.

“Ennaknya, Paak…., enak bangeeettt…, teruuuuussss…., yah, yaaaahhh, yaaaaahhh….”

“Saya hampir keluar, Maah…”

“Imah juga, Imah juga…. Bareng, Pak, bareng…, haahhh…, haaahhhh….”

“Uuuuhhhhh……, enaknya ngent*t sama kamu, Maah…., uuuuhhhhhhh….!!!”

“Oooohhhhh…., terus, Paak…, yang kenceng! Yang kenceng! Yaaaahhhhh…., terruuuss…”

“memiaw kamu sedap banget, Maah….”

“tongkol Bapak mantep…., enaakkk…, yaahhh…, terrruuuss…, Imah hampir keluaaar…”

Aku memompa tanpa henti, sampai tiba-tiba tubuh telanjang Imah mengejang. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, seakan hunjaman batang penisku masih kurang dalam dan kuat. Dia telah mencapai orgasmenya yang kedua. Saat itu gerakan pinggulku luar biasa cepat dan kuat, sehingga Imah menggapai puncak birahinya dengan menjerit panjang. Aku sendiri mencapai klimaks beberapa detik setelah itu. Air maniku menyembur-nyembur seakan tak mau berhenti. Crot! Crot! Crot! Banyak sekali. Nikmatnya tak terkatakan.

Imah tersenyum memandangiku dengan nafas masih agak tersengal. Wajah manisnya kembali nampak lugu. Aku jadi gemas, kutindihi tubuh montok Imah yang bersimbah peluh. Kuciumi mukanya. Dia menikmati kecupan-kecupanku dengan memejamkan mata.

“Enak, Maah?” tanyaku berbisik tepat di telinganya.

“Enak banget, Pak… Imah sampe’ lemes!”

Kembali kuciumi sekujur muka Imah. Kening, mata, hidung, pipi, juga telinga. Keringatnya kujilat-jilat. Terakhir kami berciuman bibir lagi, sementara batang penisku kubiarkan menancap pada vaginanya yang banjir oleh lendir. Nikmatnya masih terasa.

“Saya seneng ngent*t sama kamu, Mah,” bisikku jujur setelah itu. “Soalnya enak banget!”

“Apalagi Imah. Nggak mimpi deh bisa ngerasain enak sama laki-laki hebat kayak Bapak!”

“Hebat apanya?”

“Semuanya! Orang kaya, baik, cakep, gagah…, mainnya pinter!”

“Kita bisa begini tiap hari kalo’ kamu mau.”

“Kalo’ ada Ibu?”

Aku tidak bisa menjawab. Kuputus pembicaraan dengan berciuman lagi beberapa saat. Akibatnya, kembali nampak tanda-tanda bahwa permainan masih akan berlanjut. Imah membelai-belai wajahku sementara matanya memandangiku. Lalu dia bergumam lirih,

“Imah takut nggak bisa beginian kalo’ ada Ibu…”

“Jangan dipikirin, Mah,” bisikku. “Yang penting, kamu harus tau bahwa saya ketagihan main sama kamu. Saya kepingin kita beginian terus. Pagi, siang, sore, malem.”

“Imah juga.”

“Sekarang kita masih punya waktu lima jam sebelum saya jemput si Gavin. Kamu masih kepingin, kan?”

Imah tersenyum sambil mengerjapkan mata, maka permainan pun berlanjut beberapa ronde lagi. Di dalam kamar tidurku, di kamar mandi, juga di dapur. Sungguh, nikmatnya seperti tak pernah habis. Demikianlah Cerita panas indonesia kali ini.

Petting Pertama

Leave a comment

Cerita Panas – Petting pertama aku ma cewe aku, kedua-duanya baru pertama kali, lumayan berkesan, n rasanya ingin lebih dari itu… Bukannya sok suci atau bagaimana, namun kalau sudah terlanjur jauh, lebih baik diredam, Iman kita harus kuat, namun si “imin” kita juga harus senantiasa dilatih, agar tidak berakibat fatal nanti, hehehehhe…
Ceritanya begini, Kami menjadi dekat setelah dikenalkan oleh seorang temanku. Awal smsan hanya membahas hal – hal biasa saja. Semakin lama kami semakin dekat. Semula ER tidak pernah mau untuk membahas hal – hal yang berbau porno. Alasannya tidak baik; belum boleh; tidak ada gunanya dll. Akupun mengurangi frekuensi sms tersebut. Tapi akhirnya ia menyerah setelah aku mengemukakan pendapatku, tetapi ER meminta masih dalam kategori ringan. Setelah hubungan kami berjalan beberapa bulan, ER – pun sudah memberanikan diri membalas smsku yang dulu ia membencinya.

Aku maklum jika semula ER tidak mau membahas hal – hal pornografi, karena ia tidak pernah membahas dan melakukan sewaktu dengan pacar – pacarnya dahulu. Bahkan berciuman pun ER tidak mengijinkan. Kami telah beberapa kali berciuman tetapi kulihat ER masih bisa menahan diri. Sore itu aku menjemputnya. Kebetulan rumah sedang kosong. Tidak ada niat sebelumnya untuk ber – hohohihe. Saat itu kami sedang di salah satu mall dekat rumah. ER ingat bahwa rumahku dekat dengan mall tersebut. Ia mengajakku untuk sekedar lewat depan rumahku.

Kami – pun sampai di depan rumahku. Aku menawarinya untuk sekaligus melihat – lihat keadaan dalam rumahku dan ER tidak berkeberatan. Aku membuatkan es teh kesukaannya sementara ER memandangi foto – foto keluarga di dinding. Kami mengobrol ini itu. Sesekali aku berhasil mengajaknya tertawa. Aku mendekati ER yang duduk terpisah. Kupandangi matanya. Aku memegang dagunya, kucium lembut bibirnya. ER membalas tetapi masih wajar. Iseng kumasukkan lidah dan kudesakkan ke langit – langit mulutnya. ER membalas yang sama. Lambat laun nafasnya makin memburu. Kepalaku dipegang kuat, sesekali di dua pipiku. ER ternyata murid yang dapat menyerap pelajaran dengan cepat.

Tak kuduga telapak kiriku ditarik ke dada kanannya. ER membuka mata saat aku menahannya yang tinggal sedikit lagi menyentuh dadanya. “Nggak pa2 koko..aku kan yg minta..”, sambil tersenyum. “Bener gak pa2..”, tanyaku. ER tidak menjawab tapi menarik telapak kiriku yang beberapa saat tergantung di udara. ER menatap mataku dalam – dalam saat dadanya untuk pertama kalinya disentuh oleh lawan jenisnya. Aku hanya menyentuh dada kanannya tetapi ER yang malah meremasnya seakan merestui aku untuk melakukannya sendiri. ER melepas tangan kanannya dan meninggalkan telapak kiriku di dada kanannya. Aku meremasnya lembut dan pelan – pelan. Kepalaku ditariknya dan bibirnya ganas menciumiku. Aku meningkatkan tekanan dan kecepatan remasanku. Telapak kananku ditariknya pula. Akhirnya dua telapak tanganku berada di dua susunya. Aku meremas kadang pelan kadang kuat.

Terbersit keinginan untuk menyentuh kelaminnya walau dari celana kainnya. Tetapi masih kutahan, karena mungkin ada beberapa tindakan yang akan dilakukannya jika ia menolaknya. Yang paling parah ER marah besar dan memutus hubungan kami. Tapi setan dalam hal ini selalu mesti menang. Kuberanikan diri. Telapak kananku kudekatkan pelan – pelan ke bagian tengah celananya. Kusentuh tepat di tengahnya. ER tidak protes dan marah sedikitpun. Kutekan dan kugosok – gosok pelan – pelan dulu. Tangan kiriku masih di dada kanannya. Sesekali tangan kananku diremasnya. Nafas ER semakin terengah –engah. Kepalang tanggung, “Yank..pindah tempat yuk..”. “Ke mana koko…”. Aku menggandengnya menuju sofa di pojok ruangan.

Setengah badannya kubaringkan. Kembali kuserang dengan ciuman – ciumanku. Tangan kananku di dada kirinya, sedang yang kiri menggosok – gosok bagian tengah celananya. Lengan kananku kadang diremas kuat. Tangan kirinya kuletakkan di paha kiriku dan kubiarkan melihat reaksinya, dan ER meremas – remasnya. Aku hentikan aktifitas meremas susunya, “Yank..boleh…”. Sengaja kugantung kalimatku saat ER membuka matanya dan melihat kaosnya akan kubuka. “Jangan koko..masukin aja tanganmu..”. Maka kumasukkan tangan kananku ke dalam kaosnya. Terasa sudah mengeras dadanya. “Ooofffssttt..”, lenguhannya keluar saat tangan kananku mengenai susu kirinya. Kuremas lembut. Paha kiriku makin kuat dicengkeram ketika bh – nya kuturunkan dan pentil kirinya kumainkan.
Aku mendekatkan paha kiriku ke tangan kirinya. Tangan kiriku meletakkan tangan kirinya di bagian celanaku yang sudah menonjol dari tadi. Beberapa detik tidak ada reaksi. Antara takut dan malu ER mulai mengusap dan sesekali meremas kelaminku dari celana luarku. Aku buka kait bh – nya..tess. ER tidak memprotesnya malah retsluiting celanaku diturunkannya. Kontan aku menarik dua tanganku dan menurunkan celana jeansku. Aku buka kaos dan bh – nya. ER hanya memandangiku. Kukecup pentil kirinya dan kuputar – putar dengan lidahku. ER mendesis dan mengusap – usap kepalaku. Kulanjutkan dengan menggigit dan menyedotnya, bergantian kiri dan kanan. Kadang yang kanan aku sedot, yang kiri aku remas – remas.

Tangan kirinya yang ada di cd – ku makin kuat meremas dan mengusap. “Masukin aja tanganmu Yank..”, aku memintanya. Perlahan tangan kirinya memasuki cd – ku. Diusap dan sesekali diremasnya penisku. Sejenak aku berdiri lalu kuturunkan cd – ku. Kini bagian bawah tubuhku telah bugil. ER yang untuk pertama kalinya melihat alat kelamin pria dewasa, sejenak mengamatinya. Kami menghentikan aktifitas seksual beberapa menit karena ER banyak bertanya ini dan itu tentang penis dan vagina. Aku disuruhnya duduk sementara ER duduk di lantai sambil memegangi penisku. Dikocoknya pelan – pelan sesekali diremas kuat. Tiba – tiba bibirnya mendekati penis dan mengecupnya. Dua detik kemudian penisku telah memasuki mulutnya. “Yank..oohh..nggak usah..kamu kan belum pernah..”. ER tidak menjawab, asyik mengemut dan mengocok penis yang berada di mulutnya. Karena ER sendiri yang berkemauan maka aku juga tidak menyuruhnya untuk berhenti. Aku usap – usap rambut dan pipinya.

“Udahan yuk..tapi pindah ke kamar..mau yank..??”, aku memberanikan diri. “Terserah koko aja..”. “Kalo nggak ya gak pa2..”. “Nggak pa2 koko..”. Kami mengenakan pakaian kembali walau hanya sekenanya. Sesampai di kamar, aku menggelar karpet tebal dan menata bantal. Kuajak ER duduk lalu kuciumi lagi. Belakang kepalaku langsung dipegangnya saat lidahnya memasuki mulutku. Dua tangannya membuka celana jeansku dan menurunkan cdnya sekalian. Aku tak mau kalah. Kaosnya kubuka dan meremas – remas dua susunya, karena bh – nya tidak dipakai. Penisku dikocoknya dengan semangat. Kaosku dibuka dan dua pentilku diperlakukan seperti aku memperlakukan pentil – pentilnya. aku direbahkan di karpet dengan bantal di kepalaku. Lidahnya menari – nari di dada sedang tangan kanannya mengocok penisku. Sekarang lidahnya turun ke pusar terus ke penis. agak panas dan nikmat.

Bagaikan sedang menjilat dan mengemut es krim, ER melakukannya pada penisku. Nafasnya bagai mendaki bukit. Matanya semakin sayu. Aku bangun dan kubaringkan di karpet dengan bantal menyangga kepalanya. Kuciumi bibir; mata; pipi; leher lalu turun ke bawah. Kugigit dan kusedot dua pentilnya. Jari jemari kananku mengusap – usap dan menekan vagina yang masih terbungkus celana kain. Tangan kirinya langsung meremas dan ikut menekankan di kelaminnya. Perlahan kumasukkan tangan kananku ke balik celananya. Terasa rambut keriting dan kuperkirakan hanya sedikit. Tersentuh juga garis tengah vaginanya yang telah basah. Sedikit terangkat tubuhnya, “oouughhh..koohhh..”. kulanjutkan dengan menekannya lembut dan mengusap – usapnya. Aku masih belum berani membuka celananya. Tekanan itu tak bisa kutahan. Pelan aku turunkan celananya. ER memandangku, “Kenapa dibuka Mas..”. Aku tak menjawabnya. ER mengangkat sedikit tubuh bawahnya.

“Yank..mo ngrasain gimana orgasme itu..?”. “Gimana caranya..nga dimasukin kan ko..?”. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. Kurebahkan tubuhku pelan di atas tubuhnya. Aku cium lembut bibirnya saat kugerakkan pelan tubuh bawahku. Dadaku menekan lembut dua gunung kembarnya. Aku posisikan tepat penisku di vagina yang masih terbungkus cd. Secara santai aku maju mundurkan dan kutekan – tekan penisku. Dua tangannya meremas pelan pantatku. Semakin lama intensitas kecepatan kutingkatkan. Nafas ER sudah ngos – ngosan. Bibirku diciumnya kuat. Aku pegang dua pahanya dan kuminta dijepitkan di pinggangku. Aku gigit dan remas – remas dua susunya. Sempat aku lirik jam dinding, sudah 10 menit sejak kami duduk di karpet.
Tak berapa lama, “Yannnkkk…oohhh..ohhhsssttt..” , tangan kirinya menekan pantatku sedang yang kanan mencengkeram punggungku dan dua pahanya menjepit erat pinggangku. Punggung dan kepalaku diusap – usapnya. “Kenapa Yank..kamu keluar..?”. “Nggak tau ko..rasanya enak dan enteng..”. ER rupanya belum pernah merasakan dan tahu yang namanya orgasme. Aku cium bibirnya dan kuusap – usap pipinya. “Iya..itu namanya orgasme. Enak ya..aku ikut seneng”. Kami berpelukan mesra setelah aku berguling disampingnya. Kami lalu berbincang dan tertawa, seakan tak ada rintangan di depan nanti. Tangan kirinya menuju penis dan menggenggamnya. “Kok kecil koko..”, sambil memainkannya. “Udah gak ada rangsangan..makanya mengecil”. “Ooo..jadi harus ada rangsangan baru membesar dan panjang kayak tadi..”.

Kemudian penisku diremas – remas lembut dan diusap – usapnya. Lalu dikecup dan diemut. Tak menunggu lama, senjata kebanggaanku sedikit demi sedikit mulai berdiri. ER makin semangat melumatnya. Dua telurku tak luput digigit pelan. “Yank..mo orgasme lagi..?”. ER memandangku, “mau ko..”. “Wah..jadi doyan ya sekarang..”, aku menggodanya sambil nyengir. Penisku diremasnya kuat, “yang ngajarin siapa lho..”. “Aduhh..sakit Yank..”, aku meringis sedikit. ER merebahkan tubuh di atasku. Ia langsung menggerak – gerakkan tubuh bawahnya. Bibirku dilumat habis. Aku mengimbangi dengan mengusap – usap punggungnya dan meremas – remas pantatnya. Kumaju mundurkan pantatnya kadang cepat kadang pelan, dan kusisipi dengan kutekan – tekankan ke penisku. Matanya kian lama kian meredup. Kepalang basah, aku bangun dan ganti kurebahkan ia. Kuturunkan cd – nya cepat. “Kok dibuka cd – ku?”. “Kalo nggak mau gak pa2 kok Yank..”, aku membela diri. “Nggak pa2 ko..”. Aku ambil lulur tubuh dan kubalurkan di penis. “Buat apa ko..nggak panas tha..”. “Katanya mo orgasme lagi..sekarang nikmati aja ya..”.

Kuletakkan penis tepat di tengah vagina, sedikit di atas. “Jangan dimasukkin lho ya ko..”. “Nggak Yank..”. lalu aku menurunkan tubuh. Penisku dan vaginanya terasa licin karena lulur. Membuat gerakan dan gesekan menjadi lebih leluasa. “Enak Yank..?” “Enak ko..licin dan anget2 gimana..”, ER tersenyum. Kami berciuman lagi. Susu kanannya disodorkan ke bibirku yang langsung menyambutnya dengan menyedotnya. Dalam 10 menit ke depan nafas kami saling berlomba. Pinggangku dipeluk erat oleh dua pahanya. Aku menahan tubuh dengan meletakkan dua siku di sisi kiri dan kanannya. Terasa makin hangat vaginanya. Penisku meluncur di garis tengah vaginanya dengan lancar. Aku bangun dan untuk sesaat kutekan penis tepat di lubang vaginanya. ER meringis, “sakit koo..”. Aku menciumnya, “cma ngetes Yank..”.

Kupegang erat dua pahanya ke atas. Aku gesek – gesekkan penis dengan cepat. ER semakin terengah – engah. “koooo..ooofffsssttt..”, dua tanganku yang sedang memegang paha kiri dan kanannya dicengkeramnya kuat. Penisku dijepit erat oleh dua pahanya. Aku menundukkan tubuh, kami berciuman cepat. Tak berapa lama,” Yankkk..emmpphhh..”. Penisku memancarkan air kenikmatan ke perutnya. Aku menciumnya dalam dan lama. Kuusap cepat dengan kaosku karena hampir menyusuri pinggangnya menuju karpet. Kami berpelukan lama dan saling mengusap rambut. “Makasih ya koko..”. “Aku yang makasih..”. Lalu aku menyuruhnya untuk segera membersihkan diri di kamar mandi, karena hari sudah malam. Selama dalam perjalanan pulang ER diam saja, ternyata begitu sampai rumahnya ia terbangun. “Ngantuk Mas..capek..”, begitu alasannya.

Yank, laen kali kita gini aja ya, daripada aku ngocok sendiri… percaya ma aku, aku akan menikah sama kamu yank… i love u so much, ER, u are the only one for me. sampai sekarang (kejadian cerita diatas, terjadi 1 tahun lalu) dia masih tetap virgin , tamat.

Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.